10 Info Seputar SBMPTN yang Sebaiknya Jangan Langsung Kamu Percaya. Bisa Jadi Itu Mitos Belaka

Posted on

Mitos dan hoax seputar SBMPTN

Beberapa minggu lagi, SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) bakal dimulai. Kamu yang bercita-cita untuk bisa kuliah di kampus idaman, tentu nggak bakal melewatkan SBMPTN ini. Meski peserta SBMPTN nggak lagi terbatas untuk siswa SMA/sederajat yang lulus di tahun itu saja, alias persaingannya yang makin ketat, tapi bukan berarti lolos SBMPTN mustahil terjadi.

Nah, untuk bisa lolos SBMPTN, rajin mengumpulkan informasi jadi salah satu cara yang mesti ditempuh. Tentu akan ada banyak sekali informasi yang beredar di luar sana, tapi nggak semuanya juga harus kamu percaya. Biar nggak kecele, ada baiknya luangkan waktumu untuk menyimak info penting seputar SBMPTN berikut. Biar kamu bisa bedakan mana yang mitos, hoax ataupun fakta.

1. Passing grade adalah patokan skor untuk bisa lulus SBMPTN. Padahal nggak ada universitas yang mengeluarkan passing grade resmi lho!

passing grade bukan patokan lolos SBMPTN via twitter.com

Passing grade merupakan perkiraan skor aman untuk bisa masuk suatu program studi (prodi) di universitas, biasanya dikeluarkan oleh lembaga bimbingan belajar. Banyak siswa yang meyakini passing grade yang didapatkannya ini sebagai skor yang harus dicapai agar bisa lolos SBMPTN. Padahal, nggak pernah ada informasi resmi mengenai angka-angka tersebut. Bahkan universitas sendiri nggak pernah mengeluarkan info passing grade.

Skor untuk bisa lolos ke prodi ini tergantung performa para pesaing. Misalnya, dari 3850 pendaftar SBMPTN Fakultas Hukum UI, diambil 130 yang nilainya terbaik.

Coba deh pikirkan, kalau misalnya dari sekian banyak pendaftar nggak ada yang memenuhi passing grade yang diinfokan, apa iya kursi Fakultas Hukum UI bakal kosong begitu saja? Nggak ‘kan?

BACA Juga :   Beranjak dewasa, ini 10 pesona Aishameglio putri Duta Sheila On 7

2. “Masukkan pilihan/prodi yang sama di universitas yang sama juga agar peluang masuknya makin besar”. Hmm, nggak selalu kayak gitu sih…

Nggak harus pilih prodi yang sama via id.wikipedia.org

Pada dasarnya, kamu memang diberikan kesempatan untuk mengisi 3 pilihan prodi. Maka manfaatkanlah kesempatan ini sebaik mungkin dengan menggunakan strategi yang sudah kamu perhitungkan sebelumnya. Logikanya, mau kamu pilih jurusan Hukum pada pilihan 1, 2, dan 3 di universitas yang sama sekaligus, kalau nilaimu nanti memang nggak memenuhi, ya nggak bakal masuk. Gitu.

3. “Jangan pilih prodi unggulan di 3 pilihan, nanti susah tembus!”. Lah, kalau kamu mampu, kenapa nggak?

nggak apa-apa pilih prodi unggulan di ketiga pilihan via komputer.unsyiah.ac.id

Memilih prodi unggulan di pilihan pertama dan prodi yang lebih rendah untuk pilihan selanjutnya memang kerap dipakai sebagai strategi agar lolos SBMPTN. Tapi balik lagi, strategi masing-masing orang kan beda-beda, begitu pun denganmu. Memang sih, prodi unggulan itu lebih ketat persaingannya. Tapi, sah-sah saja kalau kamu pengen ngambil prodi yang semuanya favorit. Toh yang menentukan nanti adalah hasil skormu. Tinggal mantepin niat aja deh!

FYI, panitia SBMPTN biasanya mengeluarkan 10 daftar prodi yang paling banyak dipilih peserta SBMPTN tiap tahun. Nah, kamu bisa atur strategimu dari sini.

4. “Peluang lolos IPC lebih besar dibandingkan kalau ikutan SBMPTN IPA saja atau IPS aja”. Nggak juga ah!

IPA, IPS, IPC sama aja butuh perjuangan via www.memecomic.id

Seperti halnya pilihan jenis tes di atas tadi, pilihan prodi baik IPA, IPS, atau IPC juga punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Khusus IPC, kamu memang bisa memilih prodi yang lebih bervariasi, yakni prodi rumpun Sosial Humaniora sekaligus Sains Teknologi, tapi tesnya juga lebih banyak. Intinya, kamu punya kesempatan untuk memilih 3 prodi yang diinginkan. So, jangan sia-siakan dan tetap siap sedia dengan konsekuensinya, ya!