10 Tradisi Lebaran di berbagai daerah Indonesia, indahnya kebersamaan

Posted on


Hoopsbyhudy.com – Lebaran menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia yang kebanyakan menganut agama Islam dan tentunya oleh seluruh umat Muslim di berbagai negara. Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri juga dianggap sebagai hari kemenangan bagi umat Muslim di dunia.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragam islam, ternyata memiliki beragam cara untuk merayakan dan menyambut hari Lebaran. Setiap daerah di Indonesia mempunyai tradisinya masing-masing yang berbeda satu sama lain.

Keberagaman tradisi dalam menyambut Lebaran yang dilakukan oleh penduduk Indonesia dari berbagai daerah ini memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda, yaitu untuk merayakan kebersamaan saat Idul Fitri. Hal ini menjadi salah satu kekayaan dan keindahan yang dimiliki Indonesia.

Lalu apa sajakah tradisi-tradisi tersebut? Berikut 10 tradisi Lebaran di berbagai daerah di Indonesia yang telah dirangkum Hoopsbyjudy dari berbagai sumber, Jumat (15/6).

1. Bedulang.


foto: t5belitungtour.com

Penduduk Bangka di kepulauan Bangka Belitung mempunyai tradisi unik untuk merayakan momen kebersamaan saat Lebaran, yaitu Bedulang. Tradisi yang biasanya dilakukan setelah bersilahturahmi dan bermaaf-maafan ini merupakan tradisi makan begara yang artinya makan bersama. Namun karena penyajiannya menggunakan tudung saji, akhirnya disebut juga dengan nama bedulang. Uniknya, saat menyantap makanan kamu nggak boleh pakai sendok dan diharuskan pakai tangan. Jadi harus cuci tangan dulu, dengan aturan orang yang paling tua dulu yang cuci tangan, baru kemudian dilanjutin dengan yang muda-muda.


2. Festival Tumbilotohe.


foto: travel.akurat.co

Kamu yang berasal dari Gorontalo pasti sudah nggak asing lagi sama festival yang satu ini. Ya, Festival Tumbilotohe ini berasal dari Gorontalo dan merupakan tradisi dimana para warga Gorontalo akan menyalakan lampu yang berbahan minyak tanah yang nantinya bakal menerangi sepanjang jalan di kota Gorontalo. Tujuannya sebenarnya yaitu untuk menerangi jalan agar warga desa bisa dengan mudah melaluinya saat membagi-bagikan zakat. Biasanya tradisi ini juga dimeriahkan dengan tabuhan bedug dan meriam dari bambu.


3. Ronjok Sayak.


foto: liburmulu.com

Kepercayaan warga Bengkulu bahwa api merupakan penghubung antara manusia dengan leluhur mereka melahirkan tradisi Lebaran bernama Ronjok Sayak atau yang dikenal juga dengan Bakar Gunung Api. Tradisi ini sudah dilakukan selama ratusan tahun oleh Suku Serawai dan selalu dilakukan saat malam takbiran. Biasanya Suku Serawai akan menyusun batok-batok kelapa hingga menjulang tinggi lalu kemudian dibakar di depan rumah masing-masing.


4. Batobo.


foto: istimewa

Tradisi unik lainnya berasal dari Riau. Dimana penduduk Riau yang mudik ke kampung halamannya akan disambut meriah oleh keluarga dan bahkan oleh warga desa. Mereka akan diarak sambil diiringi pukulan rebana menuju tempat buka bersama. Biasanya tradisi ini juga diisi dengan pengajian dan lomba baca Alquran, dimana hadiahnya berasal dari para pemudik yang pulang kampung tersebut.


5. Meugang.


foto: wantinurjadidah.blogspot.com

Tradisi Meugang yang berasal dari Aceh ini biasanya dilakukan setiap tahun menjelang Idul Fitri. Tradisi Meugang sendiri biasanya dilakukan oleh semua warga di sebuah kampung. Dimana mereka akan berkumpul di masjid untuk memasak daging dan menyantapnya bersama-sama. Selain itu, daging yang ada juga biasanya dibagikan kepada sesama yang membutuhkan sebegai bentuk saling berbagai di bulan Ramadan. Tradisi ini juga dilakukan saat perayaan Idul Adha lho.


6. Pukul Sapu.


foto: ulinulin.com

Tradisi yang dilakukan oleh penduduk Leihitu, Maluku Tengah ini bisa dibilang cukup ekstrem. Tradisi yang digelar pada hari ke-7 Lebaran ini biasanya dilakukan oleh perwakilan pria dari masing-masing desa yang meliputi desa Morella dan desa Mamala. Para perwakilan dari masing-masing desa akan berkumpul di halaman masjid besar dan mereka akan saling memukul punggung satu sama lain menggunakan lidi dari pohon enau. Tradisi ini berlangsung selama sekitar 30 menit dan biasanya akan membuat kulit sobek hingga berdarah-darah.


7. Festival Meriam Karbit.


foto: equator.co.id

Tradisi yang dilakukan oleh penduduk Pontianak ini sudah dijalankan selama 200 tahun lebih. Festival Meriam Karbit sendiri menggunakan meriam yang terbuat dari bambu besar dan diletakkan di pinggir Sungai Kapuas. Menjelang malam takbiran, para warga Pontianak akan berkumpul di sekitar pinggir sungai untuk menyalakan meriam-meriam besar tersebut sebagai tanda datangnya hari kemenangan.


8. Ngejot.


foto: toliqfoto2.blogspot.com

Meski Bali lebih banyak dihuni oleh penduduknya yang beragama Hindu, namun ternyata saat Lebaran tiba para umat Muslim di Bali juga merayakan sebuah tradisi bernama Ngejot. Dimana dalam tradisi ini umat Muslim di Bali akan membagi-bagikan makanan bagi semua warga tanpa membedakan agama yang dianutnya. Tradisi yang dilakukan setiap tahun ini bertujuan menciptakan hubungan yang harmonis antar umat beragama di Bali. Ternyata, tradisi Ngejot juga sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali saat mereka merayakan hari besar agama Hindu.


9. Perang Topat.


foto: tourbalilombok.com

Sama seperti halnya tradisi Ngejot di Bali, tradisi Perang Topat di Lombok juga bertujuan untuk mempererat hubungan antara umat beragama. Perang Topat yang berarti perang ketupat ini dilakukan oleh suku asli Lombok, yaitu Suku Sasak dan biasanya dilakukan saat hari ke-6 Lebaran. Tradisi ini dimulai dengan mengarak hasil bumi, kemudian dilanjutkan dengan saling lempar ketupat yang dipercaya akan mengabulkan doa dan permohonan mereka.


10. Grebeg Syawal.


foto: 2jogja.com

Beralih ke Pulau Jawa, tepatnya di kota Yogyakarta, ada tradisi yang selalu dilakukan setelah Idul Fitri, yaitu perayaan Grebeg Syawal. Sebenarnya, Grebeg Syawal adalah tradisi keraton untuk menyambut 1 syawal. Biasanya perayaan ini akan diawali dengan para warga mengarak bermacam-macam hasil bumi yang disusun rapi berbentuk kerucut berukuran besar dari Pagelaran Keraton menuju halam masjid agung Kauman. Setelah didoakan, hasil bumi tadi biasanya akan menjadi rebutan para warga yang hadir.

 

 

 

(brl/lin)