16 Hari dalam Gelap, Anak-anak Thailand Ini Bakal Butuh Adaptasi Khusus untuk Kembali Hadapi Cahaya

Posted on


Featured Image

Coba sama-sama kita pejamkan mata. Bayangkan hidup kita seperti saat kita memejamkan mata yaitu gelap gulita: nggak ada listrik, nggak ada lampu, dan nggak terjamah cahaya matahari sama sekali. Kita nggak bisa lihat apapun. Semuanya hitam dan gelap. Selain jelas tidak bisa melihat, kira-kira apa yang bakal terjadi sama badan kita jika tidak mendapatkan paparan sinar matahari atau cahaya lampu dalam waktu yang lama?

Hal seperti itu deh yang dialami 12 remaja dan satu pelatih dari tim sepak bola Thailand yang sedang terperangkap dalam gua selama kurang lebih dua minggu. Mereka nggak mendapatkan cahaya dan juga sinar matahari sama sekali. Kondisi dalam gua sangat gelap. Tentu aja mereka sulit melihat keadaan sekitar.

Kondisi mereka di dalam Gua di Chiang Rai, Thailand. Untungnya selamat ya.. via news.detik.com

Sebenarnya, gimana sih rasanya hidup dalam kegelapan dan tanpa sinar alami maupun buatan selama berhari-hari? Yuk kita coba bersama dengan Hoopsbyjudy News & Feature!

1. Kegelapan bisa bikin orang jadi salah persepsi terhadap waktu. Karena tidak ada jam dan tidak bisa melihat matahari terbit atau tenggelam, kita akan sulit menerka waktu yang sudah berjalan

Ahli geologi, Michel Siffre, mau mengorbankan dirinya demi meneliti hal ini via www.spiegel.de

Seorang geologis bernama Michel Siffre pernah melakukan penelitian tentang hidup dalam gelap. Dia mengurung diri dalam gua yang gelap selama dua bulan. Tanpa akses pada jam, cahaya matahari, dan kalender, Siffre membiarkan badannya mengatur siklus hidup, terutama soal makan dan tidur. Hasilnya, meski sudah dua bulan berada dalam gua, dia mengira dia baru satu bulan saja hidup dalam gelap! Hal itu membuktikan bahwa terdapat salah presepsi terhadap waktu ketika lama berada dalam gelap.

Fenomena seperti itu juga bisa diamati pada orang yang buta. Mereka punya waktu mereka sendiri yang durasinya dalam sehari nggak tepat 24 jam. Ada yang kurang, bahkan ada yang lebih. Itu jelas bisa membuat waktu jadi bergeser terus menerus. Misalnya aja, orang dengan siklus waktu 24,5 jam akan bangun pukul 08.00 di hari Senin, pukul 08.30 di hari Selasa, dan seterusnya. Lama-lama badannya akan mengira saat itu pukul delapan malam padahal waktu itu pukul delapan pagi.

2. Siklus biologis manusia juga bisa sangat terganggu lho. Dalam kondisi gelap, kita nggak tahu kapan pagi dan malam hari.

Lama berada dalam gelap bisa ganggu waktu tidur lho via www.youtube.com

Percobaan untuk tinggal dalam gua yang gelap bukan cuma dilakukan oleh Siffre aja. Jossie Laures dan Antione Senni pernah mencoba hal yang sama, dilakukan di gua yang berbeda. Mereka cuma berkomunikasi dengan peneliti lain di luar gua untuk mencatat kebiasaan makan dan tidurnya.

Selama di dalam gua, mereka mengalami perubahan siklus biologis. Misalnya aja Senni, dia pernah tidur selama 30 jam tapi dia mengira bahwa dia hanya tidur sebentar. Penelitian lebih lanjut juga mengungkapkan bahwa manusia bisa tidur hingga 48 jam jika lama dalam gelap. Manusia nggak tahu kapan pagi dan malam hari karena nggak melihat sinar matahari yang selama ini jadi patokan waktu.

Siklus biologis yang berubah ini ikut mengubah fungsi tubuh yang berakibat pada terganggunya sisi psikologis. Pola tidur yang berubah dan presepsi waktu yang salah bisa mengganggu suasana hati lho.

3. Adaptasi manusia terhadap gelap itu cuma butuh waktu 90 menit. Setelah itu, indera lain selain indera pengelihatan akan jadi lebih peka

Indera lainnya selain penglihatan, akan jadi sangat peka via www.dialogue-in-the-dark.com

Sejak tahun 1988, sebuah pameran bernama Dialogue in the Dark atau percakapan dalam gelap diadakan. Kegiatannya adalah membuat orang merasakan hidup dalam kegelapan layaknya orang buta. Pengunjung juga bisa melakukan aktivitas seperti makan, belanja buah, minum, dan sebagainya dalam keadaan gelap.

Tur dilakukan selama 90 menit. Pada awalnya, reaksi orang terhadap kegelapan ini bermacam-macam. Ada yang menjadi panik, tertawa, dan sebagainya. Yang jelas, orang akan jadi salah orientasi dan juga sulit fokus sampai-sampai nggak bisa bedain kanan dan kiri lho. Setelah 90 menit berjalan, indera yang lain jadi lebih fokus terutama indera pendengaran dan juga peraba. Dengan memanfaatkan telinga serta tangan, akan lebih mudah deh buat melakukan pergerakan dan perpindahan.

4. Bayangkan aja setelah lama dalam kondisi gelap gulita lalu keluar dan mendapatkan cahaya terang, hal itu bisa bikin retina mata rusak lho

Pasti rasanya silau kalau lihat cahaya terang setelah lama dalam gelap via juliofreitas.com

Setelah lama dalam gelap, sebaiknya jangan langsung melihat hal yang sangat terang seperti sinar matahari yang lagi terik-teriknya. Retina mata bisa tidak nyaman karena kondisi yang mendadak seperti itu. Bayangkan saja ketika kita melihat langsung ke arah matahari, tentu saja mata menjadi silau dan hal itu membuat kita jadi menyipitkan mata. Kondisi tersebut bisa bikin mata nggak nyaman dan sakit. Itu sama dengan ketika melihat cahaya setelah berada dalam kegelapan.

Nggak enak kan rasanya hidup di kegelapan dalam waktu yang lama? Keberadaan listrik, lampu, api, terutama cahaya matahari harus disyukuri karena ada kaitannya dengan siklus hidup kita.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya