4 Fakta Probosutedjo, adik Soeharto yang berpulang pagi ini

Posted on


Brilio.net – Kabar duka menyelimuti keluarga pengusaha Probosutedjo. Adik dari Presiden Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pagi tadi, Senin (26/3). Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka, di Jalan Diponegoro nomor 20-22, Jakarta.

“Beliau (Probosutedjo) meninggal tadi pagi,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani dilansir brilio.net dari liputan6.com.

Probosutedjo dikenal merupakan sosok pengusaha sukses di Indonesia. Pria yang lahir di Kemusuk, Jogja tersebut memiliki jejak bisnis yang mencengangkan. Nah, berikut beberapa fakta-fakta lain yang berhasil dihimpun brilio.net.

1. Pemilik Kampus Mercu Buana

Pengalaman menjadi guru Taman Siswa di Pematang Siantar, Sumatera Utara mengantarkan Probosutedjo mendirikan Akademi Wiraswasta Dewantara (AWD) pada 10 Nopember 1981. AWD ini yang merupakan cikal bakal kampus ternama saat ini Universitas Mercu Buana.

2. Pengusaha top bidang kehutanan

Meski kerap tampil sederhana, Probosutedjo merupakan pendiri Mercu Buana Group dan juga bos dari perusahaan ternama PT Menara Hutan Buana yang bergerak di bidang kehutanan. Di sisi lain, Probosutedjo pernah terkena kasus hingga membuatnya mendekam 4 tahun di Lapas Sukamiskin, Bandung. Hal itu lantaran kasus suap reboisasi hutan tanaman industri (HTI) senilai lebih dari Rp 100 miliar.

3. Pemrakarsa Museum Soeharto

Kedekatan Probosutedjo dengan kakak seibu Soeharto ditunjukkan dengan berdirinya Museum Soeharto di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY. Tepatnya di pertigaan Jalan Wates Km 10.

Museum yang diresmikan pada 8 Juni 2013 tersebut dibangun atas prakarsa Probosutedjo untuk mengenang salah satu tokoh sejarah bangsa Indonesia yakni HM Soeharto (1921—2008).

4. Dimakamkan di Yogyakarta

Salah satu pendiri Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia ini rencananya akan dimakamkan di Yogyakarta. Seperti pernyataan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.

(brl/fen)