5 Fakta kampung Peneleh, pemukiman penuh makam di Surabaya

Posted on


Hoopsbyhudy.com – Keunikan wilayah di Indonesia sangat beragam, mulai dari pakaian adat, makanan hingga tempat tinggal. Keberagaman ini ternyata membawa efek positif untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Salah satunya makanan yang menjadi populer di dunia seperti rendang. Nama Indonesia pun mendunia dengan uniknya masakan olahan daging yang satu ini.

Tidak hanya rendang, satu wilayah di Indonesia ini juga tak biasa kita temui di daerah lain. Bisa kamu bayangkan jika kamu tinggal di daerah yang penuh pemakaman dan kamu melihat batu nisan setiap hari?

Dikutip Hoopsbyjudy dari berbagai sumber, Senin (23/4) kampung Peneleh di Surabaya ini termasuk salah satu kampung yang unik dengan banyaknya makam yang ada di dalam wilayah kampung tersebut. Simak beberapa fakta tentang kampung Peneleh yang sudah dirangkum dari berbagai sumber.

1. Kampung ini berada di kawasan HOS Cokroaminoto di Jl. Peneleh Gang VII yang dimana setiap gang di dalam kampung terdapat makam-makam prasejarah dahulu. Beberapa makam tersebut juga memiliki nama-nama para ulama yang dulu pernah tinggal di kampung Peneleh.

Foto: Youtube/Yudist Ardana

2. Peninggalan rumah tokoh pahlawan HOS Cokroaminoto juga ada di kampung Peneleh Gang VII no. 29-31. Dulunya mendiang HOS Cokroaminoto sempat membuka indekos dan rumah belajar yang digunakan untuk tempat berbagi ilmu.

Foto: ekasarihandayani.blogspot.com

3. Rumah kelahiran Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno yang masih satu wilayah dan ada di Jl. Pandean Gang IV no. 40 dan menjadi saksi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia.

Foto: Youtube/Jelajah Nesia

4. Makam Nyai Rokaya Cempo, Nyai yang masih berkerabat dengan sunan Ampel yang berada di tepat daerah pemukiman warga dan mudah untuk melakukan ziarah. Dan memang warga pendahulu kampung tersebut memang memakamkan beliau tidak jauh dari rumahnya.

Foto: Youtube/Yudist Ardana

5. Kompleks pemakaman De Begraafplaats Peneleh Soerabaja juga menjadi peninggalan dan peristirahatan terakhir bagi kaum Eropa dan Belanda yang dulu sempat menjajah di Surabaya.

Foto: Indonesia-Tourism.com

(brl/del)