6 Makanan Kita di Masa Depan karena Stok Pangan Makin Krisis. Eh, Penasaran juga sih sama Rasanya

Posted on


bahan masak makanan masa depan modern

Tahukah kamu bahwa pola makan manusia yang jumlahnya kian bertambah setiap tahunnya memengaruhi perubahan iklim di bumi? Mungkin banyak yang nggak sadar (atau bahkan nggak peduli) soal isu ini, padahal dengan begitu pesatnya pertumbuhan penduduk di dunia, yang mencapai jumlah di atas 9 miliar sejak abad pertengahan, diperkirakan kebutuhan pangan manusia akan terus meningkat hingga 70%.

Sekarang bayangkan deh, dengan jumlah manusia yang sedemikian banyaknya dibanding ketersediaan jumlah pangan yang terbatas, kira-kira manusia harus bagaimana untuk memenuhi kebutuhannya jika masih bergantung dengan pangan konvensional? Selain harganya yang akan semakin melambung tinggi, jumlah lahan agar dapat menyuplai kebutuhan pangan manusia tentu akan sempit dan berkurang.

Demi memenuhi kebutuhan yang membludak, bisa jadi kelak manusia harus terus mengeksploitasi tanah dan hutan yang akhirnya bakal berdampak pada climate change dunia. Dilansir dari National Geographic, untuk mengantisipasi krisis pangan di masa depan, sejumlah ilmuwan telah melakukan riset demi menemukan bahan pangan yang lebih ramah lingkungan, tersedia sangat banyak di alam dan dapat diolah jadi beragam menu masakan. Penasaran ‘kan kira-kira bahan apa saja sih yang mungkin bakal tersaji di meja makanmu 20-50 tahun lagi?

1. Tepung jangkrik diperkirakan para ilmuwan akan menjadi bahan makanan alternatif yang murah dan lebih ramah lingkungan di masa depan. Yap, jangkrik, Guys!

Serangga-sumber pangan yang belum sepenuhnya dieksplorasi via alamtani.com

Bergidik saat mendengar kata ‘jangkrik’ di makananmu? Untukmu yang terbiasa makan menu mainstream, mungkin akan merasa aneh dengan ide ini, padahal sebenarnya ide makan serangga bukanlah hal yang baru di dunia. Di Asia, terutama Asia Tenggara, jangkrik menjadi menu makanan atau cemilan yang cukup populer di sejumlah tempat.

Contohnya di Thailand atau bahkan di Jawa, di mana jangkrik bukan cuma jadi pakan burung tapi bisa diolah menjadi sajian rempeyek yang lezat. Jadi ide menjadikan jangkrik sebagai tepung untuk diolah menjadi energy bars, keripik, atau beragam makanan siap saji lainnya bukanlah hal yang terlalu mustahil sih, apalagi teknik pembudidayaannya relatif jauh lebih mudah, nggak makan tempat, cepat dan murah.

2. Di masa depan, bahan utama pembuat roti dan bir nggak melulu hanya akan berasal dari barley atau gandum, karena bisa jadi tergantikan kernza. Eh, apa tuh kernza?

Kernza untuk bir di masa depan via news.nationalgeographic.com

Demi mengantisipasi kekurangan pangan dan eksploitasi tanah secara berlebih yang berdampak pada keseimbangan alam, National Geographic melaporkan bahwa sejak tahun 2000-an para ilmuwan di Land Institute telah melakukan riset yang mendalam untuk menemukan pengganti gandum yang jauh lebih ramah lingkungan.

Land Institute merupakan sebuah kelompok riset di Kansas, Amerika, yang berfokus pada pertanian berbasis ekologi. Para ilmuwan Land Institute telah menyeleksi dan membudidayakan rumput gandum (statusnya hanya sedikit di atas rumput liar) untuk menciptakan varietas yang memiliki hasil panen, ukuran biji dan ketahanan terhadap penyakit dan hama yang lebih baik. Nah, temuan ini dinamakan kernza dan diprediksi kelak dapat diolah menjadi roti dan bir.

3. Kebayang nggak suatu saat di masa depan kamu akan makan ‘daging’ buatan yang lebih ramah lingkungan namun tetap memiliki rasa daging yang kamu sukai?

Gambar ini hanya ilustrasi ya gaes! via aht.seriouseats.com

Para ilmuwan kini sedang mengembangkan olahan kentang, kelapa, heme, dan protein olahan laboratorium untuk dijadikan ‘daging’ yang lebih sehat, ramah lingkungan, namun tetap memiliki rasa yang nikmat. Bahkan, daging olahan ini akan punya kesan ‘bleeding’ atau kemerahan khas daging yang dimasak setengah matang dan efek juicy berkat teknologi dan bahan heme yang digunakan. Wah, kebayang nggak sih makan daging sapi tapi berbahan dasar tumbuhan?

4. Mungkin belum terdengar lazim, namun kini algae atau ganggang telah mulai diteliti dan diolah untuk kelak digunakan sebagai pengganti mentega dan minyak lho!

Penasaran nggak sih sama rasanya? via news.nationalgeographic.com

Di masa depan, minyak dan mentega konvensional diprediksi bakal digantikan oleh minyak yang diolah dari ganggang. Ini berdasarkan sejumlah riset yang telah dilakukan para ilmuwan sekaligus pengusaha yang kemudian memproduksinya di bawah label Thrive setelah melalui sejumlah prosedur. Diklaim lebih ramah lingkungan, lebih sehat, punya rasa yang ringan dan memiliki titik panas yang tinggi, minyak olahan dari ganggang digadang-gadang jadi produk pengganti minyak sawit di masa depan lho!

5. Kedengarannya  agak aneh dan mengerikan, tapi faktanya para ilmuwan kini telah mengembangkan daging ayam yang ‘diramu’ di laboratorium. Yap, lab-cultured chicken bakal jadi bahan makananmu di masa depan!

Agak gimana gitu, tapi bikin penasaran! via www.mirror.co.uk

Percaya nggak kalau kini para ilmuwan di bawah naungan kelompok industri Good Food Institute di Amerika telah menemukan teknik untuk menciptakan daging olahan yang dibuat secara sintetis di lab riset? Karena lab-cultured chicken  atau ayam olahan laboratorium terdengar agak janggal, mereka lebih suka menyebut daging yang mereka kembangkan sebagai clean meat atau ‘daging bersih’ karena gol mereka adalah menciptakan daging yang lebih ramah lingkungan, efisien, minim limbah dan hemat lahan peternakan. Lab cultured chicken ini kabarnya telah dikembangkan dari sel hewan dan kelak akan dapat diolah menjadi daging cepat saji seperti naget ayam. Jadi penasaran nih, kayak gimana ya rasanya?

6. Terakhir, jamur. Ya, bahan jamur mungkin bukan barang ‘baru’ tapi penggunaannya di masa depan akan lebih berkembang dan variatif daripada sekarang!

Jamur punya rasa umami yang sedap~ via allyouwanttoknow.net

Future is here, gengs! Kenapa? Karena kini penggunaan jamur yang dulu hanya dipandang sebagai sayur campuran sup dan capcay telah berkembang menjadi lebih banyak olahan menarik lainnya.

Oke, mungkin di luar negeri menu olahan jamur seperti ‘daging’ jamur sudah jadi hal biasa, tapi di Indonesia, minat masyarakat terhadap konsumsi olahan jamur semakin berkembang lebih dari sebatas sayur tambahan, melainkan menjadi penyedap pengganti micin yang lebih sehat dan juga alternatif pengganti daging yang lezat. Lebih hemat, memiliki rasa yang enak dan umami serta punya ongkos produksi yang lebih rendah membuat jamur diprediksi jadi bahan masakan alternatif yang populer.

Mengingat semakin majunya teknologi, bukan hal yang mustahil jika kelak di masa depan akan ditemukan lebih banyak alternatif makanan yang lebih zero waste dan sehat. Bahkan, diprediksi jika kelak manusia bisa jadi hanya akan menyantap ‘makanan dalam botol’ yang lebih praktis. Nah, kalau kamu penasaran coba yang mana nih?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya