7 Hal yang Perlu Diketahui jika Ingin Jadi Aktivis Lingkungan, Apalagi Setingkat Internasional

Posted on


Featured Image

Singgahnya Kapal Rainbow Warrior di Indonesia beberapa waktu lalu telah membuka mata banyak orang tentang lingkungan. Lihat saja bagaimana antusiasme masyarakat dari ketiga titik tempat singgah tersebut dalam menyambut kapal milik Greenpeace ini. Mulai dari openboat hingga perjalanan #JelajahHarmoniNusantara, terlalu banyak hal-hal baik di sana. Salah satu hal baiknya, Hoopsbyjudy berkesempatan ikut di dalam kegiatan #JelajahHarmoniNusantara itu. Kami tak sekadar melihat, tapi juga mengamati berbagai elemen untuk membuktikan apakah isu lingkungan ini hanya sekadar digembar-gemborkan atau benar-benar menjadi perhatian dan dilakukan tindakan. Dari pengamatan tersebut Hoopsbyjudy telah menulis beberapa hal tentang kegiatan Greenpeace ini, seperti tentang anak-anak muda yang berkontribusi lewat volunteering sampai perihal pengelolaan sampah di kapal sebagai follow up video pembuangan sampah di laut yang sempat viral.

Selain kedua hal tersebut, Hoopsbyjudy juga mengamati serta sempat berbincang-bincang dengan beberapa awak Greenpeace seputar bekerja untuk lingkungan tercinta ini. Dari hasil sepik-sepik halus dan pengamatan selama perjalanan Bali ke Jakarta, Hoopsbyjudy telah mendapatkan beberapa hal tentang pekerjaan yang satu ini. Buat kamu yang punya mimpi bekerja menjadi aktivis lingkungan, perlu banget baca ini sampai tuntas.

1. Aktivis lingkungan sudah harus selesai dengan urusan sendiri. Agar selanjutnya bisa fokus berkampanye demi lingkungan

urusan diri sendiri wajib di selesaikan dulu – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Pekerjaan ini jelas berbeda seperti pekerjaan yang lain. Kalau di pekerjaan lain, mungkin kamu bisa memasukkan permasalahan pribadi saat deadline ketat atau ingin bolos kerja. Atau tak mau mengambil tugas tertentu karena ada masalah pribadi. Saat kamu ingin menjadi aktivis lingkungan, hal-hal seperti ini harus kamu selesaikan terlebih dahulu. Bahkan mau tidak mau, perihal sepenting urusan keluarga pun harus dikalahkan demi berkampanye lingkungan. Hal tersebut bertujuan agar kelak saat terjun ke lapangan pikiranmu fokus sepenuhnya untuk lingkungan.

2. Sebagai aktivis lingkungan, kamu dituntut untuk berbicara berdasarkan fakta dan data. Banyak belajar adalah kunci utama

Harus bermodalkan fakta dan data – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Salah satu pekerjaan aktivis lingkungan adalah memperjuangkan hak-hak lingkungan yang diabaikan. Dalam rangka memperjuangkan tersebut, kamu dituntut untuk punya dasar yang kuat. Selain fakta di lapangan, data-data pendukung juga haram rasanya kamu tinggalkan. Selain agar punya dasar yang kuat dalam membela hak lingkungan, kelengkapan data dan fakta juga berguna saat kamu menghadapi pihak-pihak lain yang berwenang. Kalau udah kuat dari dasar kan semangatmu untuk maju ke depan demi membela lingkungan tak akan pernah padam.

3. Aktivis lingkungan memang bukan artis layar kaca, tapi dituntut harus siap saat diliput media. Sebab dari merekalah isu-isu lingkungan bisa diketahui dunia

Siap diliput media – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Wajah lecek habis keluar masuk hutan, badan lengket karena belum mandi seharian bukanlah penghalang untuk kamu menyuarakan hak-hak lingkungan yang kamu perjuangkan. Sebagai aktivis lingkungan, kamu dituntut harus siap diliput media kapan saja. Kamu memang bukan artis yang tiap hari mondar-mandir di layar kaca. Tapi dari sosok-sosok seperti kamulah isu-isu kerusakan lingkungan bisa diketahui oleh masyarakat dunia.

4. Prinsip hidup yang dianut adalah they do what they talk. Sesederhana tak memakai sedotan plastik atau membawa botol minum sendiri tiap hari

They do what they talk – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Kampanye tentang penyelamatan lingkungan bukan sekadar acara untuk gaya-gayaan. Bukan juga acara yang dipaksakan untuk masuk dalam anggaran tahunan. Kampanye memang dilakukan untuk keselamatan lingkungan. Kampanye-kampanye yang sering dilakukan juga tak sekadar ucapan agar viral di media sosial tapi juga mereka lakukan dalam keseharian. Ambilkan contoh kampanye mengurangi sampah plastik. Aktivis lingkungan tak hanya gembar gembor bersuara, tapi juga melakukan pengurangan penggunaan plastik setiap harinya. Sesederhana membawa botol minum dan sedotan stainless steel setiap berkegiatan di luar.

5. Pekerjaan satu ini tak memandang gender. Mau cowok atau cewek, jika sudah bekerja di lapangan, pantang mundur ke belakang

Tak pandang gender – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Untuk memperjuangkan hak-hak lingkungan yang dilanggar, semua pekerjaan wajib dilakukan. Tak memandang gender, jenis kelamin ataupun latar belakang. Kalau kamu sudah berniat tulus menjadi aktivis lingkungan, tak ada yang namanya mundur ke belakang. Satu hal yang harus ada di pikiran, selalu maju ke depan dan menghadapi apapun yang menjadi halangan. Kalau dituntut untuk seperti ini, jelas kalau mentalmu harus sudah siap dan kuat sejak dini.

6. Seorang aktivis lingkungan juga baiknya bisa fleksibel dalam setiap tugasnya. Kerjaan individu atau berkelompok, harus bisa dilibas semua

Fleksibel kerja sendiri atau dalam team work -Foto by: Jurnasyanto Sukarno via media.greenpeace.org

Tantangan yang dihadapi seorang aktivis lingkungan memang beragam. Mulai harus bersabar kala keadaan alam yang susah diprediksi sampai menghadapi pihak-pihak yang menyalahi aturan tapi ngeyel sendiri. Karena tantangan yang kelak dihadapi lebih berdinamika daripada ‘pekerjaan biasa’, kamu perlu menyiapkan fleksibilitas diri sebelumnya. Kemampuan menyelesaikan pekerjaan secara individu ataupun kelompok perlu kamu kembangkan mulai dari sekarang. Kalau nggak, mungkin nanti kamu bakalan keteteran. Sebab perubahan di lapangan nanti, kamu nggak akan tahu.

7. Ketakutan terbesar seorang aktivis lingkungan bukan sekadar gaji yang telat dibayar, tapi takut jika tak ada yang dilakukan lagi untuk menyelamatkan lingkungan

Ketakutan terbesar – Foto by: Made Nagi via media.greenpeace.org

Saat menjalani pekerjaan tertentu perihal gaji memang menjadi batu sandungan yang kadang buat seseorang ketakutan tersendiri. Meski gaji memang penting, tapi ada satu hal yang paling membuat resah para aktivis lingkungan ini, yaitu ketika sudah tak ada yang dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan lagi. Ketakutan saat manusia sudah tak lagi peduli padahal alam sudah semakin tak nyaman ditinggali. Artinya ketakutan terbesar sebagai aktivis lingkungan lebih terfokus ke alam, bukan ke diri sendiri.

Berjuang demi menyelamatkan dan menyuarakan hak-hak lingkungan memang bukan pekerjaan yang mudah dijalani. Tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Kalau salah satu mimpimu menjadi aktivis lingkungan seperti teman-teman Greenpeace ini, maju terus ya! Bumi sungguh butuh manusia-manusia sepertimu demi kelangsungan kehidupan di dunia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya