7 Pengorbanan Ibu Ini Telaga Keromantisan Sesungguhnya, Rayuan Dilan Nggak Ada Apa-apanya

Posted on

Romantis bukan rayuan tapi pengorbanan

Kata romantis boleh jadi hampir selalu terucap dari bibir cewek ketika ditanya bagaimana kriteria cowok idaman versinya. Semakin ke sini, romantis acap diindentikan dengan perlakuan manis, seperti memberikan sebatang coklat toblerone di hari valentin, atau diberikan goresan puisi cinta ala Rangga sampai rayuan gombal ala Dilan. Pertanyaannya sebatas itukah romantis?

romantis/ro·man·tis/ a bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan;” – KBBI

Selama ini kita selalu terjebak oleh definisi romantis yang dibangun oleh produk seni populer, contohnya cerita roman, sinetron, lagu sampai film layar lebar. Secara langsung maupun tidak, produk kesenian terkonsumsi sehari-hari itu membangun definisi romantis dalam kepala kita. Romantis hanya dimaknai sebatas perlakuan dari lawan jenis yang membuat kita mesem-mesem manis.

Sejatinya nggak ada yang salah sih, tapi kok rasanya terlalu sempit saja ya jika bertolak dari frasa “bersifat mesra” (romantis vesri KBBI) yang sejatinya bermakna luas. Salah satunya mengapa kasih sayang ibu yang begitu mesra dan sarat akan pengorbanan nggak dimaknai sebagai keromantisan? Coba ingat-ingat lagi deh bagaimana perlakuan ibu kepadamu selama ini, bukankah itu sebuah kemesraan yang sepantasnya dihargai?

1. Ibu rela bertaruh nyawa dan menahan rasa sakit demi melahirkanmu ke dunia

Mengandung 9 bulan via www.pexels.com

Nggak perlu kamu ragukan lagi seberapa besar pengorbanan ibu terhadap hidupmu. Mulai dari mengandungmu selama sembilan bulan sampai menanggung rasa sakit dan bertaruh nyawa demi sang anak melihat dunia. Apakah nyanyian atau shalawat ibu sambil mengelus-elus perutnya yang buncit demi menghiburmu sejak dalam kandungan bukan hal yang romantis? Apakah jeritan dan ejanan ibu saat dalam meja operasi demi kamu lahir ke dunia bukan sebuah pengorbanan yang mesra? Terang, semua pengorbanan ini keromantisan.

2. Ibu selalu menyediakan waktu serta air susunya untukmu. Tanpanya kamu mungkin nggak akan sesehat dan sepintar sekarang

Menyusui adalah pengorbanan via www.pexels.com

Ibu juga selalu menyediakan waktu dan tenaga demi anaknya mendapatkan asupan ASI. Menyusui adalah bentuk pengorbanan dari ibu, bagaimana ia rela terbangun di malam hari saat kamu merengek kelaparan, bagaimana ia rela meninggalkan urusannya demi menyempatkan memberi nutrisi kepadamu. Tanpa pengorbanan itu barangkali kamu nggak akan sesehat dan sepintar sekarang. Tidakkah itu sebuath keromantisan?

3. Meski kian hari bobotmu kian berat ia tetap menggendong dan menghiburmu agar tak menangis

Menggendong itu berat, bukan rindu 😀 via www.pexels.com

Sebagian dari kamu tentu pernah menggendong bayi–selain terhibur karena kelucuannya–bagaimana rasanya? Awalnya enteng-enteng saja, namun lama-kelamaan pegel juga tangan, benar nggak? Baru sebenatr saja rasanya sudah capek, lantas bagaimana dengan ibu dulu yang hampir tiap hari menggendong, menimang, menghiburmu di kala kamu menangis selama bertahun-tahun? Sungguh miris jika perlakuan tersebut tidak dipandang sebagai sebuah pengorbanan yang mesra.

4. Ibu pula yang selalu menanyakan perkembanganmu di sekolah, perjuangan kecil demi masa depanmu

Peduli masa depan via www.pexels.com

Ayah berkorban dengan segala jerih payahnya menghidupimu sampai menyekolahkanmu hingga seperti sekarang ini. Namun jangan lupa pula jasa ibumu yang juga peduli terhadap perkembanganmu. Mulai dari menanyakan kehidupanmu di sekolah, mengambil rapot, sampai memberikanmu bekal makanan saat hendak merantau.

BACA Juga :   Soal UNBK Matematika Dapat Protes Keras Karena Dianggap Terlalu Sulit. Siswa SMA: Percuma Belajar!