8 Hal yang Dirasakan Para Ibu Saat Terpaksa Harus Titip Anak di Daycare. Harus Rela Meski Sering Dikatain ‘Kok Tega?’

Posted on


Featured Image

Seorang ibu tentunya ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tak peduli sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga atau ibu pekerja, semua tentu ingin memberikan kasih setulus dan sebaik mungkin, meski kadang dalam praktiknya harus berbeda.

Bagi para ibu bekerja, terutama yang merantau jauh dari orangtua atau orangtua masih aktif bekerja, setelah masa cuti habis pilihan paling rasional umumnya adalah menitipkan anak di tempat penitipan anak.

Tentu hal ini bukan hal yang mudah ya, namun seringnya memang nggak memungkinkan untuk membawa anak ke kantor atau tempat kerja. Meski dirasa berat, ditambah cibiran miring dari kiri kanan yang terpaksa didengar, para ibu harus berusaha ikhlas agar aktivitas bisa tetap berjalan. Untukmu yang kerap ‘disenggol’ lantaran ‘tega’ menitipkan anak di tempat penitipan anak, 8 hal ini bisa jadi mencerminkan perasaanmu sebagai ibu bekerja yang terpaksa harus mempercayakan anak di penitipan anak setiap hari~

1. Hari-hari pertama merupakan hari terberat untukmu mempercayakan anak kepada para ‘Bunda’ di Daycare 

Memang nggak mudah~ via edition.cnn.com

Sejuta rasa senantiasa berkecamuk setiap pagi, setiap mengantar anak ke tempat penitipan. Cemas, merasa bersalah, merasa nggak ada pilihan lain…semua bercampur menjadi satu.

2. Sesampainya di kantor, selalu muncul secercah rasa bersalah. Kadang muncul pergolakan batin, pantaskah kamu terus bekerja sementara anak ditangani orang ‘asing’?

Gelisah diam-diam via www.pexels.com

3. Setiap jam makan siang, selalu muncul rasa penasaran sekaligus cemas. Apakah anak bisa menyusu, makan atau tidur dengan baik di tempat penitipan?

Bekerja sambil melirik-lirik jam adalah hal biasa via www.pexels.com

Tapi kamu takut merasa terlalu cemas, karena katanya nanti anaknya bisa ikutan rewel.

4. Kamu harus bekerja, tapi bohong kalau kamu bilang kamu benar-benar fokus 100% memikirkan pekerjaan. Selalu ada secabik bagian dirimu yang memikirkan anak di penitipan

Padahal bisa jadi si adik bayi senang banyak temannya via www.goodbeginningscentralvt.org

Dan benar kata orangtua dulu, nggak akan ada sedetikpun masa dalam hidup ibu yang tidak memikirkan anaknya.

5. Pulang kerja jadi momen paling ditunggu. Saat menjemput sang anak di penitipan dan bertemu kembali dengan si kecil itu bahagianya luar biasa!

Yaaay, ketemu lagi sama anak! via www.workingmother.com

Dan diam-diam dalam hati ibu mengucap syukur, senyum anak bisa kamu nikmati lagi secara langsung dalam pelukan. Ah, kangennya!

6. Seringkali ada yang bertanya, kamu bekerja apa dan anak dititip ke siapa. Tak jarang kamu dapat tatapan iba saat menjawab anak dititipkan di penitipan, membuatmu kadang jadi bingung harus bereaksi apa

Ajang kumpul-kumpul via www.thejournal.ie

7. Kadangkala, hati terasa tersengat kecil setiap membaca unggahan yang menyentil para ibu bekerja. Disebut-sebut lebih baik ibu bekerja di rumah lebih baik dan yakin saja kalau berhenti kerja rezekinya sudah pasti akan tetap ada

Kadang media sosial bisa sekejam itu sama emak-emak pekerja via www.pexels.com

Padahal bekerja bukan semata soal gaji saja, meski acapkali tak bisa dimungkiri alasan utamanya kebanyakan memang demi menyokong kebutuhan ekonomi rumah tangga juga.

8. Seringkali kamu, para ibu bekerja merasa bingung harus merespons bagaimana saat ada yang secara halus atau blak-blakkan bertanya, bagaimana rasanya menitipkan anak ke orang. Kok bisa ‘tega’? Nggak kasihan?

Rasanya jangan ditanya lah! Mending didukung~ via www.eharmony.co.uk

Ingin rasanya hati menjawab dengan sebal dan ketus, jelas saja hati tak rela! Tapi hidup tetap harus jalan, tanggungjawab tetap harus diemban. Ya masa kita harus menyerah pada keadaan?

9. Setiap malam, selalu ada pergolakan batin tentang kamu yang ‘egois karena tetap bekerja’ dengan kamu yang ‘tetap harus kerja demi karier dan membantu keluarga’

Rasanya ya nggak tega,, tapi ya mau gimana? via www.pexels.com

Toh pada akhirnya, kamu menguatkan hati dan tekad untuk melanjutkan pekerjaan. Semua pasti akan berlalu, nggak selamanya anakmu akan jadi bayi kecil yang tak berdaya ‘kan?

Menjadi ibu bekerja memang nggak mudah. Sama nggak mudahnya dengan ibu yang sepenuhnya mendedikasikan waktu di rumah. Tentunya ada pertimbangan khusus, bagi ibu untuk tetap bekerja atau nggak. Yang pasti, selama dijalani dengan ikhlas dan untuk tujuan baik, yakinlah pasti semua akan berbuah manis. Sama orang yang mulutnya bau amis, cuek saja ya daripada diambil pusing nanti malah makan hati, nggak berguna. Pilihan apapun yang ibu buat, tentu yang terbaik buat keluarga, yang penting pastikan daycare anak merupakan tempat yang terpercaya. Setuju?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya