Bakmi Jawa Mbah Mo, kuliner sederhana melegenda dari pelosok desa

Posted on

Brilio.net – Menikmati kota Yogyakarta di malam hari memang pilihan yang paling pas. Suasana kota yang ramai namun penuh kehangatan dari keramahan warganya, serta temaramnya langit yang berpadu dengan lampu kota akan memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan. Apalagi jika ditemani dengan hangatnya semangkuk bakmi Jawa.  
 
Kota yang akrab disapa dengan sebutan Jogja ini memang dikenal mempunyai beragam makanan lezat yang sudah melegenda. Salah satunya, tidak lain adalah bakmi Jawa. Meski sudah banyak penjaja bakmi Jawa yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta, namun ada satu warung bakmi jawa yang sudah terkenal akan kenikmatannya, yaitu Bakmi Jawa Mbah Mo.

Meskipun terletak jauh dari tengah kota Yogyakarta, Bakmi Jawa Mbah Mo tidak pernah terlihat sepi pengunjung. Bertempat di Jalan Parangtritis Km 11, Dusun Code, Trienggo, Bantul, Yogyakarta, warung bakmi Jawa ini sudah berdiri sejak tahun 1986 silam.

foto: Warung Bakmi Jawa Mbah Mo tampak depan/Annisa A Hapsari-brilio.net 2018

Diceritakan Bu Jiah, anak pertama dari Mbah Mo yang kini meneruskan dan mengelola usaha ayahnya tersebut, ide awal membuka usaha bakmi Jawa ini berasal dari sang kakak yang menyarankan untuk sama-sama berdagang bakmi Jawa daripada menjadi petani. Kakaknya, Mbah Rebo, saat itu juga membuka usaha bakmi Jawa di daerah Pojok Beteng (Jokteng) di kota Jogja.

BACA Juga :   7 Momen Chelsea Olivia menidurkan Nastusha, mom goals banget

Pada saat itu, sebelum berjualan bakmi Jawa, Mbah Mo merupakan pekerja di tempat penggilingan padi. Akan tetapi tempat bekerja ayah dari tiga orang anak ini melakukan pengurangan pekerja. Mbah Mo pun akhirnya banting setir menjadi petani.

Namun saran dari kakaknya tersebut tidak serta merta diterima begitu saja oleh Mbah Mo. Ia merasa ragu akan mendapat pelanggan karena saat itu daerah di sekitar rumahnya yang kini menjadi tempat berjualan Bakmi Jawa Mbah Mo, masih merupakan kebun yang dipenuhi dengan tanaman dan pohon-pohon liar. Setelah diyakinkan beberapa kali, Mbah Mo pun akhirnya mau ikut berjualan bakmi Jawa.

“Dulu di sini (warung Bakmi Jawa Mbah Mo) itu masih kayak hutan, ya kebunlah. Nggak banyak rumah kayak sekarang. Jadi dulu itu, waktu diajak buka bakmi Jawa, bapak saya (Mbah Mo) itu takut kalau nggak dapet pelanggan karena tempatnya dulu masih hutan,” jelas Bu Jiah saat membuka perbincangan dengan brilio.net, Kamis (5/4).

BACA Juga :   Diduga kena kutuk, mata bocah ini keluarkan 60 ekor semut

foto: Plang warung Bakmi Jawa Mbah Mo/Annisa A Hapsari-brilio.net 2018

Empat tahun setelah berdirinya Bakmi Jawa Mbah Mo atau tepatnya pada tahun 1990, merupakan pertama kalinya usaha Mbah Mo menjadi sangat ramai dan dikenal orang banyak. Hal ini tidak terlepas dari getok tular yang dilakukan suami Bu Jiah yang merupakan seorang pegawai Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Saat itu sang suami yang sering melakukan penyuluhan selalu menyarankan tempat makan bakmi Jawa milik mertuanya tersebut.

“Waktu tahun 1990 itu, ada acara seminar di Monjali (Monumen Jogja Kembali) yang dateng itu orang-orang pemerintahan. Menteri-menteri pada dateng. Nah, pas waktu itu suami saya jadi sopir orang penting itu. Dia disuruh nyari bakmi Jawa yang enak di Jogja. Ya langsung ditawarin ke Mbah Mo ini,” cerita Bu Jiah.

BACA Juga :   Perut makin besar, 4 potret Kahiyang Ayu berkebaya ini sangat memukau

Merasa cocok dengan kenikmatan Bakmi Jawa Mbah Mo, salah seorang menteri tersebut berjanji akan mempromosikan usaha mertuanya itu kepada teman dan kerabatnya di Jakarta. Sejak saat itulah Bakmi Jawa Mbah Mo menjadi begitu terkenal dan selalu disambangi pengunjung dari luar kota hingga kini.

Keistimewaan Bakmi Jawa Mbah Mo

Jika pada umumnya bakmi Jawa kebanyakan menggunakan campuran kecap dalam penyajiannya, berbeda halnya dengan Bakmi Jawa Mbah Mo yang tidak memasukkan kecap. Selain itu bakmi ini juga tak menggunakan merica dan tomat. Bukan hanya tak menggunakan ketiga bahan tersebut dalam menunya, bakmi Jawa ini juga memakai telur bebek dan daging ayam kampung. Udah bisa bayangin, kan?