Bawa Balita Nonton Infinity War itu Sama Sekali Nggak Oke! Kalau Nggak Percaya, Nih 4 Alasannya

Posted on


Bahaya membawa bayi ke bioskop

[BUKAN SPOILER]

Tanggal 25 April kemarin, film yang ditunggu-tunggu penggemar karya Marvel Studios akhirnya tayang juga di bioskop. Avengers: Infinity War, jadi ajang pertemuan tokoh-tokoh superhero Marvel setelah selama ini mereka bermain di sekuelnya masing-masing. Dalam film berdurasi 2 jam 29 menit ini, para superhero dihadapkan pada pertarungan yang kompleks dengan banyak adegan kekerasan. Wajar kalau film ini punya rating usia 13 tahun ke atas.

Sayangnya di Indonesia, peraturan soal usia minimal penonton itu nggak benar-benar dipatuhi. Masih banyak banget orang dewasa yang tega membawa anak di bawah umur nonton film ini. Sebenarnya bukan cuma adegan kekerasannya aja yang nggak baik buat tumbuh kembang mereka, tapi juga suara yang dihasilkan film action itu kebanyakan melebihi ambang batas yang diperbolehkan buat anak-anak. Simak deh sederet faktanya yang udah Hoopsbyjudy News & Feature rangkum berikut ini…

1. Orang tua zaman sekarang sih ngerasa oke-oke gitu ya bisa bawa anaknya ke bioskop, padahal itu bisa mengganggu pendengaran si anak

Ortu bawa anak ke bioskop via www.shutterstock.com

Sebagai perbandingan aja deh, seperti dilansir di laman Daily Mail, suara normal manusia atau suara TV yang pelan itu level kebisingannya 40-60 desibel (dB). Sedangkan suara audio di bioskop bisa mencapai 85-90 desibel, tergantung jenis filmnya. Biasanya film action atau horor punya tingkat kebisingan yang lebih tinggi. Mungkin selain isi adegan, tingkat kebisingan ini jadi faktor lain yang menentukan rating usia di setiap film ya..

2. Asal kalian tahu, telinga manusia tuh punya ambang batas tersendiri dalam menghadapi paparan suara di sekitarnya

Nilai Ambang Batas via twitter.com

Nah ternyata manusia itu punya batas tersendiri saat menghadapi paparan suara di sekitarnya, namanya adalah Nilai Ambang Batas (NAB). Ini tergantung dari tingkat kebisingan suara dan durasi telinga manusia bisa menerimanya. Makin bising suara, maka durasi waktunya makin pendek. Contohnya, telinga kita cuma bisa mendengar suara dengan tingkat kebisingan 100 desibel selama 15 menit. Kalau di atas 100 dB ya bakal makin singkat batas waktunya. Begitu pun sebaliknya. Misal kamu nggak bisa mengukur tingkat kebisingan suara di sekitarmu, pakai suara-suara ini sebagai standar pengukuran ya, dikira-kira aja:

Buat pengukuran kasar aja sih via twitter.com

3. Kalau terus-terusan terpapar suara bising, bukan cuma pendengaran anak aja yang bisa lumpuh, tapi mereka juga bisa mengalami penurunan fungsi otak

Mau kalau anak terganggu pendengarannya? via www.commonsensemedia.org

Gimana risikonya kalau memaksakan mendengar suara yang melebihi NAB? Selain bisa mengganggu fungsi pendengaran di kemudian hari, kebiasaan ini bisa membuat otak manusia, termasuk anak-anak, mengalami penurunan fungsi karena pembuluh darah di otaknya terganggu. Jangan meremehkan ya, studi ini sudah pernah diteliti oleh ilmuwan di Yale University lho. Bahkan bayi yang sering diletakkan di dekat TV aja bisa mengalami dampak buruk bagi fungsi tubuhnya. Duh, nggak bayangin ‘kan apa jadinya kalau mereka dibawa ke bioskop?

4. Lagian kemampuan analisis anak di bawah umur itu masih rendah. Kalau diajak nonton film yang nggak sesuai umurnya cuma bikin mereka nggak betah, pada akhirnya rewel dan malah ganggu yang lain

Kalau anak rewel malah ganggu yang lain via www.liveabout.com

Ratih Zulhaqqi, seorang psikolog anak, seperti dilansir Liputan6, mengatakan kalau daya analisis anak di bawah umur itu masih rendah. Mereka belum bisa berpikir serumit orang dewasa. Mengajak balita menonton film superhero, yang mana seharusnya diperuntukkan bagi 13 tahun ke atas, malah akan mengganggu fungsi kognitifnya. Cerita yang terlalu rumit malah cuma akan diterima setengah-setengah oleh mereka. Padahal itu bisa membuat anak menangkap adegan cuma dari kulit luarnya doang. Kayak adegan kekerasan, yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang boleh dilakukan. Bukan nggak mungkin mereka akan mempraktikkannya di dunia nyata.

Ada beberapa orang tua yang menjadikan earplug atau penutup telinga sebagai pembelaan, agar tetap bisa membawa anaknya ke bioskop. Padahal earplug juga bukan solusi terbaik buat masalah ini. Earplug cuma bisa mengurangi dampak aja, bukan menghilangkan sepenuhnya. Lagian penggunaan earplug juga nggak bisa sembarangan lho, ada rumusnya sendiri. Daripada rumit, alangkah baik dan bijaksana kalau orang tua nggak menuruti egonya dengan nggak membawa anaknya menonton bioskop. Nggak mau ‘kan si anak tuli sebelum waktunya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya