Bukan Karena Aphelion, Ternyata ini Penyebab Kota-Kota di Indonesia yang Biasanya Panas Jadi Dingin

Posted on


Featured Image

Buat kita yang hidup di daerah tropis, bisa melihat butiran salju turun menjadi hal yang mustahil dilakukan. Sekalipun rumah kita ada di dataran tingi, sedingin-dinginnya juga pasti tidak sampai turun salju. Namun berbeda halnya dengan apa yang baru-baru ini terjadi di dataran tinggi Dieng dan Bandung. Masyarakat di sana dibuat heran dengan butiran kristal es yang memenuhi hamparan sawah dan ladang, membuat warnanya seketika berubah jadi putih, mirip di Eropa gitu~

Fenomena unik ini membuat masyarakat jadi heboh, sampai-sampai beredar kabar di jejaring sosial kalau peristiwa ini terjadi karena aphelion. Aphelion sendiri adalah suatu kondisi dimana posisi bumi sedang berada di titik terjauh dari matahari. Padahal menurut beberapa ahli, cuaca dingin yang memang dirasakan di banyak daerah ini bukan karena itu. Lah, terus karena apa ya? Tenang, Hoopsbyjudy News & Feature sudah merangkum informasi lengkapnya untuk kamu. Yuk, simak dulu~

Indonesia sedang dilanda suhu dingin beberapa hari belakangan ini. Tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan aphelion

Aphelion vs Perihelion via watchers.news

Penurunan suhu yang terjadi di Indonesia belakangan ini bisa dibilang drastis. Beberapa wilayah seperti Dieng, Wonosobo, dan Bandung sampai bisa mencapai suhu 18 derajat celsius lho. Kalau dilansir dari Kompas, yang paling ekstrem ada di Frans Sales Lega (NTT) dengan suhunya pada Rabu (4/7) kemarin mencapai 12 derajat celsius! Banyak yang bilang udara dingin yang tiba-tiba datang ini karena posisi bumi lagi jauh dari matahari, atau istilahnya aphelion.

Padahal kata orang LAPAN, penurunan suhu yang terjadi di wilayah Indonesia ini justru tidak ada hubungannya dengan aphelion

Hamparan ‘salju’ via today.line.me

Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), seperti dikutip Tempo, justru mengatakan kalau cuaca dingin ini bukan disebabkan oleh aphelion. Aphelion sendiri memang biasanya terjadi pada bulan Juli setiap tahun. Tapi menurutnya jarak bumi dengan matahari tidak terlalu berpengaruh pada suhu di permukaan bumi. Perubahan suhu udara bisa terjadi akibat distribusi panas bumi yang juga mengalami perubahan.

Kabarnya saat ini matahari sedang berada dekat dengan bumi bagian utara, membuat selatan bumi menjadi lebih dingin dari biasanya

Angin berhembus dari selatan ke utara via www.cnnindonesia.com

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, mengatakan posisi matahari yang berada di utara bumi membuat tekanan udara di bagian selatan bumi menjadi lebih tinggi. Tingginya tekanan udara ini membuat angin berhembus dari selatan ke utara, mendorong awan menjauh dari selatan bumi. Hal ini menyebabkan angin dari Australia yang sifatnya dingin dan kering berhembus ke utara melewati Indonesia. Inilah yang membuat kita merasakan dingin meski sedang berada di kota yang biasanya panas, kayak Jogja misalnya…

Nah, awan yang menjauh dari selatan bumi ini juga memengaruhi distribusi panas dari matahari ke permukaan bumi lho, bikin siang panas banget, tapi malam dingin banget

Siang makin panas, malam makin dingin via www.lbc.co.uk

Tony Agus Wijaya, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, menambahkan kalau puncak kemarau ini membuat udara siang dan malam mengalami perbedaan yang signifikan. Awan yang menjauh dari bagian selatan bumi membuat cahaya matahari di siang hari tidak terhalang untuk sampai ke permukaan bumi. Sebaliknya, di malam hari, panas matahari yang terserap permukaan bumi terpantulkan kembali ke angkasa, tanpa terhalang awan, dan membuat suhu jadi sangat dingin.

Meskipun tidak turun hujan, tapi suhu di Indonesia malah bisa jadi dingin banget ya. Padahal bayangannya ‘kan kalau kemarau bakal panas terik gitu. Jadi, gimana? Sudah paham ‘kan kenapa tiap malam sekarang rasanya nggak bisa kalau tidur tanpa selimut? 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya