Cuma Gara-gara Nggak Ikut Demo, Drivel Ojol Wanita ini Dipermalukan di Depan Umum. Kok Tega Sih?

Posted on


Driver ojol wanita dihukum di depan umum

Seperti yang kita semua ketahui, hari Senin (23/4) kemarin jadi hari bersejarah bagi dunia transportasi daring atau online. Ratusan driver ojek online (ojol) dari 2 perusahaan besar, Go-Jek dan Grab, melakukan demo besar-besaran di depan gedung DPR untuk menyuarakan aspirasinya. Beberapa tuntutan menjadi pemantik gelaran demo yang dinamai “Aksi Akbar 234” itu, seperti tuntutan menaikkan tarif dasar ojek daring, tuntutan untuk segera melegalkan perusahaan transportasi online, dan tuntutan diberi kejelasan perlindungan hukum.

Sayangnya, demo kemarin diwarnai aksi sweeping yang dilakukan beberapa oknum tidak bertanggung jawab. Sweeping ini menyasar driver ojol yang ketahuan tidak ikut demo dan tetap menarik ojek. Mereka diberhentikan paksa meski sedang membawa penumpang. Ada juga yang dihukum lompat jongkok sambil direkam ramai-ramai, seperti yang dialami seorang driver ojol wanita ini. Ia harus menahan malu lantaran dihukum di depan umum. Videonya pun disebar di berbagai grup jejaring sosial. Pantaskah ia menerima hukuman tersebut jika memang alasannya semata-mata cuma karena solidaritas? Simak ulasan Hoopsbyjudy News & Feature berikut ini.

Sebuah video mempertontonkan aksi sweeping yang dilakukan kepada driver ojol wanita. Ia ketahuan tetap menarik ojek di tengah demo besar-besaran kemarin

Seorang driver ojol wanita yang tidak diketahui namanya, terkena aksi sweeping yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab. Ia diberhentikan sekelompok driver ojol dan dihukum lompat jongkok, padahal saat itu kondisi ia sedang membawa penumpang. Tidak hanya dihukum, mereka pun ramai-ramai merekam menggunakan ponsel masing-masing. Dalam video bahkan ia juga ‘dihujani’ kata-kata umpatan. Dengan menahan malu, ia tetap melakukan apa yang diperintah teman-teman sesama ojolnya.

Mereka yang melakukan sweeping berdalih atas nama solidaritas. Padahal yang namanya solidaritas itu harusnya tumbuh dari kesadaran sendiri, bukan paksaan orang lain!

Mengatasnamakan solidaritas untuk berbuat anarki via www.viva.co.id

Sweeping ini dilakukan kepada mereka yang ketahuan tidak ikut aksi demo dan tetap mengambil penumpang. Padahal kesepakatannya hari itu semua driver akan mogok kerja. Para driver yang bolos demo dianggap tidak solid, tidak setia kawan, dan berbagai label negatif lainnya. Aduh, yang namanya solidaritas itu seharusnya tumbuh atas kesadaran sendiri, bukan paksaan dari pihak manapun! Dalam KBBI aja jelas tertulis:

solidaritas /so·li·da·ri·tas/n sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dan sebagainya); perasaan setia kawan

Gimana bisa perasaan setia kawan itu muncul dari paksaan orang lain? Justru kalau sesama anggota saling mengayomi, menghargai, dan tidak saling merugikan satu sama lain, rasa solidaritas itu bisa muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksa-paksa.

Kalau sampai mempermalukan orang di depan publik gini sih, namanya persekusi berkedok sweeping. Sama sekali tidak ada gunanya!

Persekusi berkedok sweeping via jateng.tribunnews.com

Ini bukan berarti kita tidak boleh menegur ke sesama anggota komunitas ya. Menegur itu sah-sah aja, apalagi kalau dia jelas bersalah. Ya asal dengan cara yang sopan dan tidak mempermalukan di depan banyak orang seperti di video itu. Kalau begitu sih sama aja kayak mempersekusi. Mungkin di masa mendatang dia tidak akan mengulangi, tapi apa yang lain bisa menjamin, kondisi mental driver ojol itu akan baik-baik saja? Kalau dia sampai trauma dan merugikan orang-orang terdekatnya gimana coba? Rasanya dipermalukan di depan umum itu lho yang tidak bisa dihilangkan begitu aja…

Lagian, siapa tahu kondisi ekonomi mbak driver ojol itu memang lagi kurang baik. Makanya dia bela-belain narik demi mencari rezeki

Driver ojol wanita via medan.tribunnews.com

Apa mereka yang mempermalukan itu tahu apa alasan sebenarnya di balik keputusan driver ojol wanita itu sampai rela membalik jaket hijaunya, menyembunyikan helmnya, dan melawan rasa takutnya, demi bisa tetap menarik ojek, meski bahaya mencekam? Gimana kalau ternyata kondisi ekonomi keluarganya memang lagi kurang baik dan cuma dia satu-satunya tulang punggung keluarga? Atau jangan-jangan dia butuh uang untuk membeli obat anggota keluarganya yang sakit? Atau membeli susu untuk anak-anaknya?

Segala kemungkinan di atas bisa aja terjadi lho. Alih-alih langsung menghakimi, alangkah lebih baiknya kalau ada yang bertanya dulu soal apa alasan mbak driver ini tetap nekat menarik ojek. Kalau ternyata ada kaitannya sama hal-hal di atas, ya sebagai sesama manusia yang harusnya punya empati, mbok ya dimaklumi aja. Toh, kalau mereka ada di posisi mbak ini, pasti bakal merasakan hal yang sama.

Miris sih, kejadian persekusi macam ini tuh udah berkali-kali terjadi. Sebagian besar tidak hanya mempersekusi, tapi juga merekam dan membagikannya di media sosial untuk dipermalukan dan ditertawakan bersama. Semoga aja kalian yang membaca tidak lantas sembarangan menyalah-nyalahkan orang dan merasa paling benar di dunia deh~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya