Katanya Bisa Gantikan Wi-Fi, Ini 4 Fakta Penting Soal Li-Fi! Cara Baru Internetan Pakai Bola Lampu

Posted on

Canggihnya Teknologi Kian Meninggi

Siapa sih yang sekarang nggak butuh Wi-Fi?

Mau lagi nunggu kereta di stasiun atau jalan-jalan di mall, mencari Wi-Fi gratis sudah jadi semacam refleks bagi generasi kekinian. Ada tidaknya Wi-Fi juga seringkali jadi pertimbangan utama bagi pencari kost atau kontrakan. Begitu bisa nyambung ke Wi-Fi dan mematikan paket data, kita seakan-akan sedang menghirup udara segar di pegunungan…lega. Kayaknya nggak ada deh yang bisa menyangkal fakta bahwa keberadaan Wi-Fi dalam kehidupan kita tidak lagi bisa tergantikan. Atau mungkin Wi-Fi bisa tergantikan?

Li-Fi atau Light Fidelity. Inovasi ini digadang-gadang bisa menghasilkan jaringan internet wireless seperti internet, tapi berbasis cahaya lampu. Jadi tidak perlu memakai router atau menunggu jaringan fiber optic sampai ke wilayahmu, tetapi bisa menggunakan bola lampu! Bahkan katanya kecepatan internet bisa jauh lebih tinggi daripada Wi-Fi. Hah? Kok bisa ya?! Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

BACA Juga :   9 Pesona Linda Morselli, supermodel seksi mantan Valentino Rossi

Berbeda dengan Wi-Fi yang dikembangkan dari jaringan sinyal radio, Li-Fi memanfaatkan media cahaya lampu. Cahaya ternyata bisa jadi media untuk meneruskan informasi digital tanpa kabel

Cahaya adalah media utama Li-Fi via purelifi.com

Dilansir dari CNN, Li-Fi atau Light Fidelity ditemukan dan sudah dipatenkan oleh Prof. Herald Hass dari University of EdinburghProf. Hass sendiri berangkat dari ide bahwa sorotan cahaya juga bisa menjadi media komunikasi semacam sandi morse modern. Proses pengiriman data-data melalui media cahaya ini disebut Visible Light Communication (VLC). Berbeda dengan jaringan Wi-Fi yang mengandalkan infrastruktur seperti tower radio atau jaringan fiber optic, VLC bisa dibangun hanya dengan membangun transmisi antara bola-bola lampu yang sudah pasti banyak terpasang di mana-mana.

Waduh, gimana tuh caranya? 

Dengan peralatan tertentu, gelombang atau sinyal cahaya nantinya bisa digunakan untuk membawa informasi. Asalkan gawai elektronikmu terpapar sorotan cahaya lampu pintar, bakal langsung bisa nyambung ke internet

Ilustrasi cara kerja Li-Fi via whsgoldenarrow.com

Cara kerja Li-Fi nggak jauh beda dengan Wi-Fi, hanya saja Li-Fi menggunakan cahaya sebagai media transfer data. Dua sumber cahaya saling mendeteksi melalui sensor cahaya yang terletak di ujung perangkat Li-Fi. Nantinya, perangkat lain akan mendeteksi dan mengartikan sebagai biner 1 ketika cahaya lampu LED menyala. Saat ini semua cahaya dapat dideteksi Li-Fi selain warna merah dan hijau.

BACA Juga :   Begini Jadinya Kalau 12 Istilah ini Kamu Pasrahin ke Google Translate. Nggak Akurat, Banyak Ngaconya

Dalam proses pengiriman data Li-Fi sangat mengandalkan cahaya sebagai media jaringan. Maka dari itu, penemunya, Prof. Hass justru meyakini Li-Fi akan dengan mudah diadopsi dan digunakan karena tidak perlu membangun banyak infrastruktur baru.