Kisah di balik profesi sopir ambulans, mistis hingga penuh risiko

Posted on

Brilio.net – Ambulans, kendaraan ini kerap dipandang seram oleh banyak orang. Namun tidak begitu dengan Eko Nur Handoko (38), selama 12 tahun lebih menjadi sopir mobil ambulans baginya adalah pengalaman menyenangkan yang pernah ia rasakan.

Reporter brilio.net beruntung bisa bertatap muka langsung dengan Eko yang telah mengabdikan diri di Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta sejak tahun 1994 itu. Pria asli Yogyakarta ini mengaku sudah bergabung dalam PMI sejak kelas 1 SMA.

foto: pmi-yogya.org

Menjalani profesi sebagai sopir ambulans telah dilakoninya sejak 2006 silam. “Enjoy saya pas kerja, senang bisa membantu sesama. Karena prinsip saya kelak akan ada orang yang bantu kita dan keluarga kita,” jelasnya saat ditemui di kantor PMI Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Tegalgendu 25 Kotagede Yogyakarta.

BACA Juga :   10 Pola asuh anak abad ke-19 ini absurd abis, percaya sama mitos

Selama menjadi sopir ambulans, banyak pengalaman tak terduga yang dirasakan. Ia harus berhadapan dengan berbagai kondisi darurat seperti menolong korban kecelakaan lalu lintas, ibu melahirkan, hingga membawa jenazah. Eko mengaku dirinya dan seluruh anggota PMI Yogyakarta dibekali pengetahuan medis yang cukup. Manfaatnya agar ia dan rekannya dapat memberi pertolongan kepada pasien sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

Profesi sebagai sopir ambulans mendorongnya untuk selalu sigap, sabar dan berhati-hati dalam menjalankan tugas. Risiko harus siap ia terima dalam kondisi apapun di lapangan. “Dalam perjalanan membawa pasien yang dikhawatirkan orang sekitar saya, alias human error,” jelas Eko sambil duduk di bangku kayu panjang.

BACA Juga :   6 Beda gaya Ditto-Ayu dalam film dan Ditto-Ayu di dunia nyata

Pengalaman puluhan tahun menjadi anggota PMI membuatnya terbiasa dengan kondisi paling mengerikan sekalipun. Namun pekerjaan menjadi sopir ambulans bukan tanpa risiko. “Kita bawa jenazah terpotong dan membusuk sudah biasa. Namun risikonya ya bahaya infeksi yang ditularkan oleh jenazah atau orang sakit,” jelas Eko.

foto: pmi-yogya.org

Kepala Bagian Pelayanan PMI Yogyakarta, Yuliko Pambudi (43), menceritakan bahwa sopir PMI Yogyakarta telah mengantarkan jenazah ke berbagai daerah. Paling jauh yakni ke Pariaman, Sumatera Barat hingga Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Yuliko sendiri sudah berpengalaman menjadi sopir ambulans. Membawa jenazah antar pulau dalam beberapa hari tidak membuatnya khawatir, asalkan surat dan identitas jenazah lengkap.