Kisah dua pejuang air yang berusaha lestarikan lingkungannya

Posted on


Hoopsbyhudy.com – Air merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk yang ada di bumi. Segala aktivitas pasti selalu menggunakan air. Entah untuk mandi, minum, makan dan aktivitas yang lainnya.

Sayangnya, di Indonesia sendiri masih banyak daerah-daerah yang belum memiliki air yang layak untuk dikonsumsi bahkan beberapa daerah mengalami kekurangan air. Hingga akhirnya ada beberapa orang yang peduli terhadap lingkungan dan memperjuangkan air untuk lingkungannya.

Sebut saja Sugeng Handoko, pemuda asal Yogyakarta ini harus memperjuangkan air demi membangun desanya yang berada di Kabupaten Gunungkidul. Meski terlihat daerah yang rimbun dengan banyak pepohonan besar, ternyata Gunungkidul juga banyak pepohonan yang ditebangi. Melihat hal itu, Sugeng bersama organisasi Karang Taruna dari Desa Nglanggeran bergotong royong menanam pepohonan di kawasan Gunung Api Purba.

Bersana timnya ia mengembangkan Desa Nglanggeran melalui pengelolaan Embung. Embung atau waduk mini berfungsi untuk menampung suplai air hujan di musim penghujan yang akan dialirkan pada musim kemarau yang dimanfaatkan untuk mengaiti 20 hektar perkebunan buah di desa tersebut.

“Kebanyakan masyarakat di sana bekerja sebagai petani yang sangat bergantung pada musim hujan untuk mengairi perkebunannya. Sekarang kami membuat penampungan air hujan yang dapat dipanen saat musim kemarau untuk mengairi kebuh buah kelengkeng dan durian,” katanya saat ditemui media di acara Ades Berikan Apresiasi Kepada Pejuang Air di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (4/4).

Selain Sugeng, ada juga pejuang air yang berasal dari timur Indonesia, Romo Marselus Hasan. Pria Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menggunakan air untuk pembangkit listrik di daerahnya.

Penggunaan generator sebagai salah satu cara Desa Bea Muring mendapatkan suplai listrik rupanya telah menciptakan polusi udara dan suara. Alhasil Romo Marselus berupaya mencari jalan keluar dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran air sebagai penggeraknya.

Berkat PLTMH yang dananya diperoleh dari dana swadaya masyarakat, kini Desa Bea Muring sudah tidak lagi tercemar oleh polusi dari puluhan generator. Selain itu, masyarakat menjadi tidak khawatir akan sumber listrik untuk penerangan, hiburan, bahkan usaha rumah tangga seperti menenun dan membuat kue.

Kedua pejuang air ini telah mendapatkan penghargaan dari Ades yang bekerjasama dengan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan sebagai wujud apresiasi kepada individu-individu yang dinilai memiliki komitmen dalam menjaga pelestarian perjalanan air yang disebut sebagai para pejuang air Ades.

(brl/del)