Kisah Edi Mulyono, dulu santri kini bos penerbitan

Posted on



Edi Mulyono begitu mencintai dunia literasi. Dari hobi menulis cerpen, lalu mendirikan penerbitan Diva Press pada 2001 yang hingga kini eksis menyajikan beragam genre buku. Edi mengaku penerbitannya dibangun dengan modal nyaris Rp 0.

“Kalau pertanyaannya modal berapa itu dapat dikatakan nyaris nggak ada. Yang ada adalah saya bisa menjaga amanah. Itu yang menjadi spirit besar yang sampai sekarang saya pegang,” tuturnya.

Lama nyantri di Ponpes Denanyar, Jombang lalu kuliah hingga S3 di Jogja. Belasan tahun berbisnis, santri asal Madura ini telah mengalami jatuh bangun. Semua itu bisa dilalui karena dia berpegang pada prinsip kerja keras dan amanah.

Untuk para pebisnis muda, Edi punya beberapa wejangan. Pertama pastikan bisa menjaga amanah. Sebab jika pada diri sendiri masih bertanya-tanya ‘aku amanah nggak ya?’ tentu membuat orang lain ragu. Kedua adalah skill. Yaitu sesuatu yang bersifat nilai jual. Ketiga adalah pengalaman. Di dalamnya boleh disebut pengetahuan tentang bisnis itu.

Dalam menjalankan bisnisnya, Edi tidak mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya. Menurutnya asalkan ongkos produksi sudah tertutupi serta gaji karyawan terbayarkan, maka itu sudah cukup.

“Bagi saya efisiensi itu adalah di saat kita sudah mencapai posisi BEP/balik modal di situ ada potensi keuntungan. Lalu efisiensi apa lagi yang perlu dihunjamkan. Kalau begitu efisiensi tidak ada bedanya dengan kebakhilan,”

Kini Edi juga merambah ke bisnis kafe dengan konsep ruang ekspresi Keilmuan, Kebudayaan dan Kesusastraan.

 

(brl/red)