Kisah lady biker bercadar, dari dicegat penjahat hingga dikira terori

Posted on


Brilio.net – Langit Yogyakarta pada Jumat (23/3) sore bak kain kanvas dengan lukisan nan indah. Perpaduan gradasi warna jingga dan biru di langit cerah mengiringi perjalanan brilio.net menuju Victory Motor di Jalan Brigjen Katamso untuk menemui seorang anggota Jogja CBR Riders Independent (JCRI).

Setibanya di lokasi, seorang wanita dengan pakaian muslimah serba hitam, lengkap dengan cadar dan topi putih. Sesekali dia berbincang dengan montir terkait sepeda motornya yang diperbaiki. Wanita itu adalah Lindabira Wulandari, sosok yang brilio.net cari.

Lindabira/foto: brilio.net/Ivanovich Aldino

Linda merupakan lady biker bercadar yang sudah menggilai dunia motor sport sejak duduk di bangku SMP. Tak seperti kebanyakan remaja perempuan pada umumnya yang mempunyai hobi berdandan atau bermain musik, perempuan bernama lengkap Herlinda Ira Wulandari tersebut justru sudah hobi menggeber gas motor sejak di bangku SMP.

“Dulu karena almarhum papaku seorang pembalap motor cross, jadi dari kecil sudah akrab dengan motor. Kelas 3 SMP waktu dapat ranking lima besar, dikasih RGR (Suzuki RGR 150R) biru,” ungkap Linda menceritakan awal mula rasa cintanya terhadap motor.

Linda kemudian berganti kendaraan ke sepeda motor Ninja R sebelum akhirnya ibu satu anak ini berganti lagi dengan mengendarai Ninja RR saat SMA. Sejak tahun 2012, perempuan berusia 29 tahun tersebut menggunakan Honda CBR 250R pemberian almarhum ayahanda tercinta.

Lindabira mengendarai motornya/foto: brilio.net/Ivanovich Aldino

Bergabung bersama JCRI sejak 2016 lalu, Linda sudah menjalani touring ke berbagai daerah di Indonesia. Dari Wonogiri, Lampung, Cirebon, Surabaya hingga Sabang. Linda juga satu-satunya anggota perempuan dalam komunitas motor yang memiliki 80 lebih anggota tersebut.

Tak hanya melakukan rangkaian perjalanan touring, Linda bersama JCRI juga melakukan berbagai aksi sosial seperti menambal lubang di jalanan dan bagi-bagi nasi pada orang yang membutuhkan. “Nggak seperti kebanyakan orang, kita biasanya melakukan aksi-aksi tersebut pada dini hari,” ucap ibu satu anak ini.

Dari semua rangkaian tuoring yang sudah pernah ia lakukan bersama JCRI, ada satu perjalanan touring yang begitu berkesan dan membekas bagi alumni Ilmu Komunikasi APMD 2006 ini. Saat itu ia sedang melakukan perjalanan menuju Surabaya untuk berkunjung ke makam sang ayah pada 2014 lalu seorang diri. Di tengah perjalanan, dia sempat dicegat penjahat. “Alhamdulillah saya nggak apa-apa,” ungkapnya.

Perjalanan hijrah seorang Lindabira

foto: brilio.net/Ivanovich Aldino

Perubahan yang datang pada diri Linda bukanlah datang begitu saja. Linda mengalami perubahan diri secara perlahan. Dimulai dengan menggunakan hijab biasa, lalu berkembang dengan jilbab yang lebih besar atau disebut khimar.

Rutin mengikuti berbagai kegiatan kajian Islam, menjadi titik temu bagi Linda untuk memantapkan niatnya menggunakan cadar atau niqab. “Karena lihat teman-teman saya di kajian yang menggunakan niqab, dari situ hati saya mulai tergerak (hatinya), ‘kok adem ya lihat teman-teman yang berniqab’,” ujar Linda.

Sebagai satu-satunya anggota perempuan yang bercadar, Linda tentu menjadi perhatian khusus bagi para anggota lainnya. Meskipun tak mengalami perubahan yang mendadak, Linda mengaku teman-temannya sempat merasa segan padanya. Namun lambat laun, anggota lainnya mulai terbiasa dengan cara berpakaiannya dan tetap memperlakukan Linda seperti biasanya. “Mereka mendukung kok. Mereka juga bilang ‘nggak apa-apa, itu malah baik’,” ungkap Linda.

Berubah penampilan tak membuat Linda mengurangi rasa cintanya kepada motor dan komunitas JCRI yang sudah dianggapnya seperti keluarga. Bulan Februari lalu, Wonogiri menjadi tujuan pertama Linda melakukan touring setelah resmi menggunakan niqab. “Meskipun saya pakai gamis, saya tetap safety dalam berkendara,” ungkap Linda lagi.

Dikira teroris

foto: brilio/Ivanovich Aldino

Tetap menekuni hobi dengan penampilannya yang sekarang tentu menimbulkan pemandangan aneh bagi orang-orang yang melihatnya. Tapi hal tersebut tak membuat Linda merasa risih dan minder, ia malah mendekati orang tersebut dengan sikap yang ramah. “Kalau ketemu di jalan terus mereka merasa aneh atau apa, malah saya sapa ‘Assalamualaikum’, ‘selamat siang’, jadi mereka ketawa aja,” ungkap Linda.

Bagi Linda, menggunakan niqab tak menjadi penghalang baginya untuk tetap menekuni hobi bermotornya. “Nggak ada kaitannya sama sekali, motor adalah hobi saya sedangkan menggunakan niqab merupakan kewajiban saya sebagai seorang muslimah,” tambahnya.

Di Indonesia hadirnya perempuan bercadar masih menimbulkan stigma negatif di masyarakat, kehadiran mereka juga kerap dihubungkan dengan radikalisme dan teroris. Lewat aksi-aksinya dalam berkendara dan tetap menggunakan niqab menjadi salah satu cara Linda untuk mematahkan stigma negatif tersebut.

Dipandang aneh sudah mejadi hal biasa bagi Linda. Ia bahkan pernah dikatai sebagai seorang teroris. Namun Linda ingin membuktikan bahwa perempuan yang bercadar tidak selamanya berhubungan dengan radikalisme.

 

(brl/pep)