Koling, kopi cita rasa kafe dalam nuasa kaki lima di Maliboro

Posted on


Brilio.net – Berbicara tentang Malioboro, mungkin semua orang tak mampu mendeskripsikannya dengan satu kalimat saja. Menjadi pusat Jogjakarta, Malioboro seperti tak pernah habis memberikan cerita baru kepada setiap pengunjungnya

Ya, tempat wisata yang panjangnya kira-kira dua kilometer ini memang memiliki pesona yang tiada habisnya. Bahkan semua pengunjungnya mungkin akan ingin kembali lagi setiap berkunjung ke lokasi ini.

Sejak awal memasuki kawasan ini, akan ada selalu penampakan sisi Malioboro yang dipenuhi pria paru baya yang sedang duduk bersantai di becak tuanya sembari menunggu pelanggannya. Kemudian pak kusir yang tengah asik memberi makan kudanya, hingga pedagang kaki lima yang sedang menawarkan dagangannya kepada wisatawan.

Dan satu lagi yang unik, setiap 250 meter sekali kaki melangkah ada sesuatu yang seakan tak mau lepas dari perhatian. Dua pria muda yang memakai sorjan dan blangkon khas Jogja dengan gerobak antiknya.

Di gerobak antik itu berjejer teko besar dan berbagai macam toples. Dengan bantuan mesin sederhana, keduanya tengah disibukkan menyajikan segelas kopi yang akan melepas dahaga pengunjungnya.

foto: dok. brilio.net

Gerobak sepeda antik tersebut mampu menghadirkan kopi rasa kafe. Koling. Begitu sebutan untuk penjaja kopi ini. Koling, akronim dari Kopi Keliling, ini menyulap sebuah kopi ala kafe dengan harga kaki lima.

Nicholas Deni Firma, pemilik bisnis ini, mengaku membuka usaha Koling dari sebuah kegemerannya mengelilingi perkebunan kopi dan mempelajari kopi sejak bekerja di sebuah kafe. “Kepikiran pengen buka kedai kopi, cuma waktu itu sewa kedai mahal,” ungkapnya.

Bersama sang kakak, pria 22 tahun ini akhirnya membuka Koling pada tahun 2014. Dengan sepeda antik beroda tiga, keduanya membuat usaha yang mulanya bernama Coffee Road 26 ini. Usahanya dirintis bermodalkan uang tabungan dan uang bulanan dari orangtua yang ditotal sejumlah Rp 8 juta.

foto: dok. brilio.net

Saat itu gerobaknya tak sebagus sekarang. Hanya terbentuk dari papan pintu yang diberikan almarhum sang kakek dari Kulonprogo. Sedangkan kompor merupakan pemberian tantenya.

Menggunakan megaphone toa dan menggunakan style barista ala kekinian, keduanya mengelilingi jalanan sambil berjualan kopi. Namun sayangnya hasil dagangannya kadang tak sesuai ekspetasi.

Kemudian terlintas di benak kakak-adik ini untuk mencoba dengan konsep baru untuk menggunakan pakaian Jawa. Strategi ini sekaligus memasukkan unsur budaya dalam bisnis mereka.

foto: dok. brilio.net

Cara ini mampu menarik perhatian warga, meskipun awalnya ketertarikan itu hanya untuk sekadar minta foto bersama. Namun dengan kesabaran dan ketelatenan mereka, lama-lama banyak masyarakat yang akhirnya membeli.

Satu tahun merintis kopi keliling, banyak kejadian unik yang tak dapat dilupakan oleh keduanya sebagai padagang kaki lima. Kadang kala keduanya harus berurusan dengan Satpol PP, atau ‘pajak kebersihan’ dari oknum. “Mungkin kalau dihitung-hitung sudah kena Satpol PP 100 kali,” kenangnya sambil tertawa.

Sukses berkeliling berjualan kopi bermodalkan baju Jawa, keduanya akhirnya memutuskan untuk menjadikan ini hak cipta. Coffee Road 26 pun berubah menjadi CV Kopi Keliling Nusantara. Pergantian nama ini karena aturan mengharuskan nama CV tak boleh menggunakan Bahasa Inggris.

foto: Instagram/@kolingjogja

Pada tahun 2017, keduanya mengajukan proposal kepada Dinas Pariwisata agar diizinkan berjualan di sepanjang jalanan Malioboro. Tentunya konsep Jawa sangat membantu mereka dalam meyakinkan pihak Dispar untuk memberi izin sebagai bentuk melestarikan budaya Jogja. Izin yang mereka kantongi membuatnya tak akan berurusan lagi dengan Satpol PP, sehingga juga memudahkan dalam melakukan promosi.

Kini Koling sudah memiliki enam gerobak yang beroperasi sepanjang Jalan Malioboro. Dalam satu hari, semua gerobak bahkan sudah dapat menghasilkan hingga 500 cup.

Semua produk yang disajikan pun juga berasal dari kopi yang berkualitas. Koling mengambil kopi dari petani yang tak sembarang dan dari berbagai daerah, seperti Temanggung, Bandung, hingga Lampung.

Untuk mengetahui kualitas kopi itu sendiri, setiap dua bulan sekali atau lebih keduanya mengunjungi salah satu pertanian dimana mereka mengambil kopi. “Kalau kopi yang paling laris disini kopi Robusta Temanggung,” kata mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta ini.

foto: dok. brilio.net

Untuk menikmati segelas kopi berkualitas ini tentu tak membutuhkan uang yang banyak, kisaran belasan ribu rupiah saja. “Ya ibaratnya orang mau minum kopi di atas Rp 20 ribu kan mending buat makan,” sambungnya.

Kini, kakak-adik ini tengah mengembangkan usahanya ke daerah lain. Sebutlah Magelang dan Semarang telah beroperasi tiga gerobak. Dan Jakarta menjadi target selanjutnya. “Mau buka cabang di Jakarta, tapi konsepnya pakai baju Betawi,” tutupnya.

 

(brl/pep)