Kwangenrejo, kampung toleransi agama di tepian hutan jati Bojonegoro

Posted on


Brilio.net – Sore belum menjelang. Pukul 14.30 WIB, bocah-bocah berkerudung dan berkopiah bermain di teras musala Nurus Salam. Mereka menunggu seorang ustaz yang tiap hari mengajari mereka membaca Alquran dan pengetahuan agama Islam. Ada yang berlari-lari, ada yang bermain bekel, dan ada pula yang sekadar duduk-duduk.

Musala itu berukuran sedang dan bisa menampung jemaah salat sampai 100 orang. Tapi tiap harinya, tak banyak yang ikut salat wajib dengan berjemaah di musala tersebut. Jemaah salat Maghrib dan Isya biasanya tak lebih dari 15 orang. Kiai Fauzan adalah imam salatnya dan tinggal di rumah samping musala.

Hanya berjarak beberapa puluh meter saja arah timur, atau hanya dibatasi empat rumah warga, sebuah bangunan gereja berdiri dan dimanfaatkan untuk beribadah umat Protestan. Gereja itu adalah Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat atau biasa disingkat dengan GPIB. Jika jemaat gereja sedang beribadah, maka suara mereka pasti terdengar dari musala Nurus Salam.

foto: Musholla Nuru Salam Kwangenrejo/Nanang Fahrudin – brilio.net | 2018

Sementara di belakang GPIB yang hanya dipisahkan 5 rumah arah utara, Gereja Kristen Jawa Tengah Utara atau GKJTU berdiri dan juga dimanfaatkan untuk beribadah. Letak GKJTU berbatasan langsung dengan area persawahan warga. Saat umat di GKJTU beribadah tentu saja suaranya juga terdengar sampai ke GPIB.

Tiga tempat ibadah itu berada di kampung Kwangenrejo, sebuah kampung yang jauh dari pusat kota Bojonegoro, Jawa Timur. Kwangenrejo bukan nama administratif sebuah dusun. Karena secara administratif Kwangenrejo masuk Dusun Sidokumpul, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Kwangenrejo hanya satu RT yang ada di Sidokumpul, yakni RT 37.

Kwangenrejo adalah kampung terpencil yang berada di tepian hutan Jati KPH Bojonegoro. Dari kota Bojonegoro, butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana dengan jarak lebih dari 30 km. Pasalnya, jalan akses ke sana lumayan sulit dengan jalan paving yang sudah mulai rusak. Meski berada di Dusun Sidokumpul, tapi khusus RT 37 (Kwangenrejo) dipisahkan oleh area persawahan dengan jalan tanah berbatu sekitar 500 meter. Benar-benar terpisah dari kampung lain di sekitarnya.

foto: Suasana kampung Kwangenrejo/Nanang Fahrudin – brilio.net | 2018

Tapi, Kwangenrejo adalah kampung tua. “Sebelum ada Sidokumpul, Kwangenrejo ini sudah ada,” kata Pujianto Ketua RT 37/RW 10. Pujianto biasa dipanggil dengan nama Pak Heru, merujuk pada nama anaknya, Heru.

Pak Heru awalnya tidak bisa baca tulis. Ia baru bisa baca tulis saat mulai memegang ponsel lalu belajar menulis atau membaca SMS. Tapi lantaran keuletannya ia dipercaya menjadi Ketua RT 37.

Di Kwangenrejo hidup rukun antar sesama warga beda agama bukan hal baru lagi. Kampung tersebut sudah ada sejak tahun 1930-an dan penghuninya adalah orang-orang Kristen. Baru pada tahun 1980-an, beberapa muslim datang dan mendirikan musala. Kini jumlah umat yang berbeda keyakinan di kampung tersebut hampir sama. Di GKJTU terdapat sekitar 45 orang jemaah, sedang di GPIB juga sama yakni 45 orang jemaah, dan umat Islam berkembang cepat yakni sekitar 80 orang.

foto: Acara Festival HAM tahun 2016 di Gereja GPIB/dokumentasi desa

“Di sini agama jadi keyakinan pribadi-pribadi. Jadi tidak ada paksaan. Ada yang bapaknya Kristen tapi anaknya Islam. Atau sebaliknya. Dan persatuan di sini cukup kuat,” kata Parsono, salah satu warga jemaat GPIB.

Parsono kini berusia 67 tahun. Ia menjadi anggota Majelis GPIB dan seringkali membantu ibadah warga. Adik perempuan Parsono menikah dengan Kiai Fauzan dan telah menjadi muslim sejak 1980-an. Kiai Fauzan adalah pendiri musala satu-satunya di Kwangenrejo. Hubungannya dengan Kiai Fauzan tidak pernah ada masalah. Karena di Kwangenrejo, perbedaan keyakinan dalam sebuah keluarga sudah lumrah terjadi.

Warga Kwangenrejo memang sangat menjaga kerukunan umat beragama. Tak heran jika di kampung itu tak pernah ada perselisihan antar penganut agama berbeda. Hampir semua masalah diselesaikan dengan cara dialog dan semangat kebersamaan. Jika ada warga meninggal, misalnya, maka warga yang merawat jenazah hingga menguburkannya adalah semua warga dan tak peduli agamanya apa. Bedanya hanya tata cara pemakaman saja. Semisal warga yang meninggal adalah orang Islam, maka warga Kristen akan membantu menggali kubur atau menyiapkan kursi untuk tamu, dan lain sebagainya.

“Jadi tidak membeda-bedakan yang meninggal itu orang Kristen apa Islam. Semua sama,” kata Parsono.

foto: Acara Festival HAM tahun 2016 di Gereja GPIB/dokumentasi desa

Bahkan, untuk acara-acara tasyakuran atau peringatan hari kematian, semua warga akan menghadiri undangan pemilik hajat. Lantaran di Kwangenrejo kebanyakan warga Nahdliyin (Nahdlatul Ulama), maka banyak tradisi seperti nyatus (memperingati 100 hari kematian) atau nyewu (memperingati 1.000 hari kematian), serta tasyakuran lain juga dihadiri warga Kristen. Meski di acara tersebut umat Kristen hanya akan duduk-duduk dan tidak ikut melafalkan doa-doa. “Kita datang untuk saling menghormati,” tutur Yono, Penatua GKJTU Kwangenrejo.

Yono menemui saya di rumahnya yang sederhana berlantai tanah. Ia menunjukkan undangan tasyakuran tingkepan (tujuh bulan usia kandungan) tetangganya yang muslim. Saat itu Bu Sumiati, istrinya sedang landang atau membantu memasak di rumah Bu Patmi yang sedang tingkepan. “Ya saya nanti datang ke tasyakuran itu. Tetangga kami yang undang kok,” katanya.

Tak hanya acara-acara yang digelar warga muslim saja yang melibatkan warga Kristen, tapi acara yang digelar warga Kristen pun sering dihadiri warga muslim. Semisal perayaan Natal tahun 2017 lalu, semua warga Kwangenrejo diundang ke GPIB dan banyak muslim yang hadir. Mereka berada di halaman gereja untuk ikut merayakan Natal yang digelar pada 30 Desember 2017.

“Kalau tanggal 24 Desember itu ibadah Natal dan hanya umat Kristen yang hadir. Tapi untuk perayaannya ya kita bersama-sama,” tutur Hartono, Koordinator Pos Pelayanan Kesaksian GPIB Kwangenrejo.

Hartono menceritakan, saat lebaran Idul Fitri keluarganya juga menyiapkan aneka jajanan dan meletakkannya di atas meja. Umat muslim yang merayakan juga akan datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. “Kerukunan di sini ini sudah menjadi kebiasaan kami. Jadi tidak membutuhkan ada program atau apapun. Ya berjalan alamiah seperti ini,” katanya.

Kerukunan antar umat beragama di Kwangenrejo seperti sudah mendarah daging. Banyaknya isu intoleransi di luar yang banyak ditampilkan di televisi nyatanya tak pernah memengaruhi kehidupan warga. Semisal kasus perusakan gereja, pembatasan ibadah, dan kasus-kasus lain yang banyak terjadi di berbagai daerah seakan tak berarti apa-apa bagi warga Kwangenrejo.

Pemerintah Desa Leran pun tak memerlukan membuat program khusus untuk menjaga kerukunan warga. Karena kerukunan itu sudah terwujud sejak puluhan tahun dan menjadi kebiasaan. Warga Kwangenrejo sudah terbiasa dengan adanya perbedaan keyakinan.

“Semua program desa untuk semua warga, jadi tidak ada beda Kristen atau Islam,” kata Muttabi’in, Kepala Desa Leran.

Kwangenrejo memang dikenal sebagai Kampung Kristen karena banyak warganya yang beragama Kristen. Namun, kampung di tepian hutan jati itu juga dikenal sebagai kampung toleransi karena kerukunan warganya. Banyak orang dari luar daerah yang datang untuk melihat langsung kampung tersebut. Hal itu kemudian ditangkap oleh Kepala Desa sebagai peluang memajukan Kwangenrejo.

Kini Kwangenrejo sedang disiapkan sebagai Kampung Wisata. Di hutan dekat kampung tersebut mulai ditanami aneka pohon buah seperti kelengkeng, jambu kristal dan pepaya california. “Saya kerjasama dengan Perhutani dan diberi hak pakai lahan seluas 17 hektare. Di Kwangenrejo juga sudah didirikan 7 gazebo agar kampung lebih cantik,” kata Kepala Desa.

Kampung Kwangenrejo terus bergeliat. Warga beda agama hidup berdampingan dengan rukun dan tenang sehari-hari. Banyaknya isu intoleransi tak mengubah wajah kampung yang dihuni oleh kebanyakan petani itu. Kampung Kwangenrejo memang berada di tepian hutan jati, tapi kedewasaan dalam mengelola perbedaan agama berada di atas orang-orang berpendidikan tinggi yang kerap berseteru dan saling hujat.

Saat sore menjelang petang, saya sedang ikut bersama Hartono, Koordinator Pelayanan Kesaksian GPIB di rumah Ibu Warni salah seorang jemaat GPIB. Di rumah tersebut sedang digelar acara kempalan keluarga (kumpulan keluarga), yakni semacam ibadah doa bersama yang digelar di rumah salah satu jemaat. Saya ingin melihat lebih dekat bagaimana sekitar 15 warga yang hadir menggelar ibadah. Di tengah-tengah acara, adzan maghrib berkumandang. Saya meminta izin kepada warga untuk pamit ke musala guna menunaikan salat maghrib.

“Teman saya ini muslim. Dia tidak hendak beribadah seperti kita, tapi hanya ingin melihat untuk keperluan penelitian,” kata Hartono kepada warga yang disambut senyum dan anggukan kepala.

 

 

(brl/gib)