Mas Dul, si penghulu ganteng yang rajin lapor gratifikasi ke KPK

Posted on


Brilio.net – Sekilas tak ada yang istimewa dari Kantor Urusan Agama (KUA) Trucuk di Klaten, Jawa Tengah ini. Bangunan kantor untuk mengurus segala hal soal pernikahan ini tak berbeda dengan kantor pemerintah pada umumnya. Hanya beberapa ornamen khusus yang membuatnya jadi tampak bagus.

Tapi jangan salah, setahun hampir 500 orang lebih menikah di wilayah kerja Kantor Urusan Agama (KUA) Trucuk. Tak catatan itu yang mengesankan. Ada penghulu bernama Abdurrahman Muhammad Bakri yang tengah jadi buah bibir masyarakat. Lelaki yang akrab disapa Mas Dul itu memiliki perilaku yang tak biasa.

Di tengah keprihatinan maraknya kasus korupsi. Mas Dul berperilaku bak oase di tengah padang pasir. Dirinya aktif melaporkan semua gratifikasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

foto: Kantor KUA Trucuk/Gufron

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengakui akhir ini banyak teman seprofesinya memberikan selamat. Mereka mengapresiasi tindakannya melaporkan gratifikasi ke KPK.

Tak tanggung-tanggung, jumlah laporan gartifikasi ke KPK dari Mas Dul mencapai 59 laporan. Dugaan gratifikasi itu dari kurun waktu 2015 hingga 2018. Mas Dul tampaknya memahami betul Peraturan Menteri Agama RI Nomor 24 Tahun 2015 Tentang Pengendalian Gratifikasi Pada Kementerian Agama.

foto: Mas Dul di kantor KUA Trucuk/Gufron

Tentunya sebagai penghulu, menerima hadiah sering dialaminya. “Sejak saya dinas di sini (KUA Krucuk) sudah mulai melaporkan hal itu. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemenag saya akan mematuhi peraturan yang berlaku termasuk apa yang bukan hak kita tidak boleh kita menggunakannya,” kata Mas Dul sambil menyitir Peraturan Menteri Agama RI Nomor 24 Tahun 2015 Tentang Pengendalian Gratifikasi Pada Kementerian Agama.

Sejak 2014, besaran gratifikasi yang diterima lulusan Fakultas Syariah, IAIN Surakarta 2008 tersebut berbeda-beda. “Mulai dari Rp 25 ribu hingga paling besar Rp 200 ribu, terkadang ada yang memaksa padahal sudah menolak berulangkali,” tambahnya. Tak ayal, pria yang aktif di komunitas Mapala saat masih kuliah ini pun rutin melaporkan gratifikasi tersebut via email dan menurutnya tak begitu rumit.

Suami dari Ferawati (35) tersebut mengaku tindakannya terinspirasi oleh Khalifah Umar Ibn Khattab. Bijaksana sebagai pejabat atau pelayan masyarakat. “Saya terinspirasi sosok Umar Ibn Khattab, pernah ada tamu ke rumah Umar Ibn Khattab terkait urusan pribadi. Umar sebagai pejabat kala itu mematikan lampu karena lampu tersebut dibiayai oleh negara. Maka ia merasa tak layak pembicaraan tersebut menggunakan fasilitas negara,” terangnya.

Kini ayah dari dua anak, Ahsan (9) dan Arsyad (2,5) tersebut jadi role model pegawai lainnya di lingkungan Kemenag Klaten.

Kepala KUA Trucuk, Agus Krisnadi (56) menyatakan jika Mas Dul memang berkinerja bagus. Dirinya sudah sejak lama mengenalnya.

“Saya menjadi kepala di sini sudah sejak tahun 2014, dia (Abdurrahman Muhammad Bakri) masuk di sini sejak tahun 2015. Tapi, saya sudah kenal dia sejak di Kemenag di bagian pengadaan, cara berkomunikasinya bagus, orangnya fokus, ramah dan teliti. Makanya saya tarik ke (kantor) sini,” kata Agus.

Senada, Nurkholis Subekti (44), rekan kerja Mas Dul ini mengakui sosok penghulu yang masih muda tersebut punya jiwa humoris dan menguasai teknologi informasi. “Kalau dilihat dari postur ganteng, humoris juga dan dia pintar urusan IT jadi suka minta bantuan. Di kantor ini dia yang paling jago kalau urusan teknologi,” ujarnya.

(brl/fen)