Merapi Erupsi Luapkan Abu, Ini Fakta-Fakta Letusan Freatik yang Wajib Kamu Tahu. Tidak Perlu Panik!

Posted on


Merapi, salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia, kembali mengalami erupsi hari ini (11/5). Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya dibuat kaget dengan kepulan asap yang tiba-tiba membumbung tinggi di atas gunung, disertai suara gemuruh dengan tekanan dari dalam. Nampaknya peristiwa tahun 2006 dan 2010 lalu masih menyisakan rasa trauma mendalam bagi mayoritas penduduk, terutama yang tinggal di sekitar lereng Merapi. Terbukti, kepanikan tetap tidak bisa dihindari.

Tapi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kalau letusan freatik yang baru tadi pagi dialami Merapi itu termasuk normal kok guys. Pernyataan itu diperkuat dengan adanya release yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sleman, Yogyakarta. Mereka kompak mengimbau agar warga tidak panik. Tentang letusan freatik ini, Hoopsbyjudy News & Feature telah merangkum informasinya khusus buat kamu, yuk simak bersama!

Hujan abu tampak menyelimuti daerah Sleman, Yogyakarta, terutama wilayah utara pada Jumat (11/5) pagi, akibat letusan Merapi

Merapi erupsi via jogja.tribunnews.com

Buat kamu yang tinggal di Yogyakarta terutama di daerah utara, pasti merasakan adanya hujan abu vulkanik akibat letusan freatik Merapi tadi pagi. Di beberapa titik, bahkan hujan ini sampai bisa membuat jalanan dan kendaraan terselimuti abu. Tidak sedikit masyarakat panik, bingung, dan takut dibuatnya. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, seperti dilansir Kompas, menyatakan kalau status Merapi saat ini masih normal, dengan radius bahaya 3 kilometer dari puncak kawah. Meski begitu pihaknya akan terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik di sana.

Saat ini masyarakat diminta untuk tetap tenang, karena pada dasarnya letusan freatik yang dialami Merapi tidak berbahaya

Terjadinya letusan freatik via www.hipwee.com

Dilansir Tempo, letusan merapi yang dialami Merapi ini cuma terjadi karena adanya kontak air dengan magma. Air itu bisa berasal dari air tanah, air laut, air danau kawah, atau air hujan. Ketika menyentuh magma di dalam bumi, air bisa berubah menjadi uap. Ketika tekanan uap cukup tinggi dan tidak bisa dibendung, maka akan terjadi letusan freatik, yang melontarkan abu vulkanik, pasir, dan material piroklatik. Tinggi letusannya pun bervariasi, bisa mencapai 3.000 meter, tergantung kekuatan uap airnya.

Letusan freatik berbeda dengan tipe letusan yang dialami Merapi 8 tahun lalu. Kalau dulu letusannya termasuk eksplosif dan jauh lebih parah dari sekarang

Dampak letusan Merapi 2010 lalu via caminootonal.blogspot.co.id

Tidak bisa dipungkiri, peristiwa meletusnya Merapi tahun 2010 lalu masih menyisakan rasa trauma mendalam bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Jadi wajar kalau erupsi tadi pagi cukup mengagetkan. Tapi yang perlu diketahui, letusan freatik ini berbeda dengan tipe letusan yang terjadi 8 tahun silam. Kalau dulu letusannya termasuk eksplosif besar, merusak, dan menghasilkan awan panas tipe St. Vincent. Tekanan dalam perut bumi menimbulkan ledakan dahsyat yang memuntahkan material baik padat atau cair. Biasanya, letusan eksplosif ini meninggalkan kawah besar setelah kejadian.

Letusan freatik seperti ini memang normal dialami semua gunung berapi aktif. Jadi masyarakat memang tidak perlu panik berlebihan

Letusan freatik normal dialami via pontianak.tribunnews.com

Menurut Sutopo, letusan freatik memang biasa terjadi pada gunung berapi aktif, seperti Gunung Merapi. Tahun 2013 lalu, Merapi juga pernah mengalami eruspi freatik. Kemunculan letusan macam ini juga cenderung mendadak dan bisa terjadi kapan aja. Beda sama letusan eksplosif yang bisa diprediksi. Meski katanya tidak berbahaya, tapi masyarakat yang tinggal dalam radius 5 kilometer diimbau untuk tetap mengungsi.

Sebagai orang yang hidup dikelilingi gunung berapi, sudah seharusnya kita siap dengan segala risiko yang ada. Tinggal gimana mempersiapkan diri kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan

Peta potensi bencana di Indonesia via monitor.co.id

Sadarkah kamu, negara Indonesia ini dikeliling lebih dari 50 gunung berapi yang statusnya masih aktif lho. Sebagai orang yang jelas-jelas hidup di tengah bahaya yang bisa mengancam kapan saja, sudah seharusnya kita membekali diri dengan pengetahuan dan trik menyelamatkan diri. Namanya bencana kan tidak ada yang tahu, jadi tidak ada salahnya kalau kita rajin ikut sosialisasi antisipasi bencana, atau sekedar cari tahu sendiri di internet.

Meskipun pada umumnya terdapat tanda-tanda gunung akan meletus, kayak hewan-hewan yang tiba-tiba turun, sumber air mengering, atau ada suara gemuruh, tapi tetap aja menyiapkan diri dengan kemampuan menyelamatkan diri itu penting banget. Selain itu, tentu saja kita perlu mematuhi segala instruksi yang dikeluarkan otoritas terkait saat terjadi bencana. Pokoknya, stay safe aja dimanapun kamu berada ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya