Nostalgia Erupsi Merapi 2010 Silam. Letusan Dahsyat yang Nggak Akan Bisa Dilupakan Warga Jogja!

Posted on


Hari ini Gunung Merapi batuk-batuk lagi. Merapi mengalami erupsi freatik yang cukup membuat masyarakat terkejut di pagi hari ini. Tanpa kabar, tanpa permisi, Merapi menyemburkan abu ke langit setinggi 5.500 meter. Warga Jogja pun tidak menyangka Merapi akan meletus secara mendadak, bahkan ketika statusnya masih normal seperti sekarang ini.

Sontak, ingatan warga Jogja kembali ke masa 8 tahun silam ketika Merapi mengamuk dengan ganasnya di akhir tahun 2010. Gunung Merapi meletus hebat pada tanggal 26 Oktober dan 5 November 2010. Tragedi luar biasa itu menelan 277 korban jiwa, termasuk sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan yang sangat populer pasca erupsi tahun 2006. Total pengungsi pun mencapai setengah juta orang. Bencana ini memukul perekonomian dan sempat memutus akses transportasi antar kota.

Tragedi ini tak mungkin bisa dilupakan oleh warga Jogja, Sleman, Magelang, Klaten, dan sekitarnya. Juga bakal jadi sebuah kenangan tak terlupa oleh mahasiswa yang tengah belajar di Jogja kala itu. Yuk sejenak nostalgia dengan kenangan tersebut. Semoga kejadian itu tak terulang kembali.

Letusan Merapi 2010 adalah duka yang mendalam bagi masyarakat Jogja dan sekitarnya. Ratusan nyawa melayang akibat awan panas yang menerjang membabi buta

lari dari terjangan awan panas via www.kaskus.co.id

Awan panas meluncur dahsyat dengan jarak mencapai 14-15 km. Hujan pasir melanda hingga radius 30-an km. Bau belerang menyesakkan napas. Pekat. Jalan Kaliurang dipenuhi ratusan ribu manusia yang bergerak turun. Zona Awas Merapi yang pada awalnya hanya radius 5 km, diperluas menjadi radius 20 km. Aktivitas benar-benar lumpuh.

(Buku Letusan Merapi 2010, Sebuah Catatan Jurnalistik: Hari-Hari Menegangkan)

Bagi kamu yang nggak pernah merasakan hujan abu, tahun 2010 adalah tahun penuh abu. Nyaris setiap hari mulai akhir Oktober sampai awal Desember nuansa langit kelabu dan dunia tidak seperti biasanya

kondisi desa dpasca terkena erupsi via www.indoplaces.com

Bayangkan di suatu pagi, mentari tidak menyinari seperti biasa. Ketika bangun tidur, kamu melihat rumah, kendaraan, jalan dan semuanya seolah berubah warna jadi putih dan kelabu. Monokrom. Rasanya seperti sore hari dengan mendung yang menggelayut dengan sangat pekat.

Internet mengabarkan semuanya begitu jelas. Merapi meletus tengah malam dan mengambil puluhan hingga ratusan nyawa. Ikon legendaris penjaga Merapi, Mbah Maridjan pun ikut tiada. Ratusan ribu lainnya terancam dan harus mengungsi saat itu juga. Informasi itu sudah cukup bagi mahasiswa untuk tidak diam saja.

Erupsi Merapi yang dahsyat tersebut membuat perkuliahan diliburkan. Sebagian senang karena bisa pulang ke kampung halaman, sebagian berjuang membantu masyarakat korban terdampak letusan

erupsi merapi via www.ributlupiyanto.com

Hari-hari pasca erupsi Oktober belum juga pulih, Merapi menghantam lagi dengan letusan yang lebih dahsyat di awal November. Awan panas melaju kencang melibas semua yang dilewatinya. Ratusan nyawa melayang, permukiman ikut hancur terpanggang. Duka pun tak berkesudahan. Apalagi hujan abu kian deras menerjang.

Kampus diliburkan, sebagian memilih pulang karena telpon orang tua di kampung halaman. Sebagian keras kepala ingin terjun ke gelanggang perang. Tiap harinya bergabung dalam tim relawan yang menyebar di berbagai titik pengungsian, sebut saja Kepuharjo, Umbulharjo, Stadion Maguwoharjo, Auditorium UPN, Kampus UGM, Wedomartani, Jumoyo, Sawangan, dan posko-posko lainnya. Tinggal pilih posko aja.

Para relawan ini bergabung ke lembaga kemanusiaan seperti Bulan Sabit Merah Indonesia, Dompet Dhuafa, ACT dan sebagainya. Kebanyakan membantu trauma healing anak-anak di posko pengungsian, ada pula yang membantu evakuasi

relawan mengangkat jenazah via www.kaskus.co.id

Relawan mahasiswa ini tersebar di pos-pos pengungsian, tergantung di mana mereka bergabung. Tapi job mereka nggak jauh beda, menyalurkan bantuan dan trauma healing anak-anak. Ya kebanyakan dari mereka kemampuannya masih sebatas itu sih. Jadilah setiap hari mereka bergerilya melakukan aksi kemanusiaan. Senjatanya sederhana, kaos atau rompi yang berlabel lembaga kemanusiaan dan masker untuk menghalau abu vulkanik yang nggak bisa habis meskipun disiram air terus-terusan. Capek banget memang berurusan dengan abu vulkanik yang bikin pedih di mata itu.

Jalanan ke arah Magelang sempat terputus setelah jembatan ambrol akibat menahan lahar dingin. Abu tebal menghancurkan jalanan, pertanian, dan rumah-rumah penduduk di Magelang

kerusakan parah di magelang via sevenregar.wordpress.com

Entah mengapa, kerusakan parah akibat abu vulkanik justru menimpa Magelang, bukan Sleman atau Jogja. Jembatan ambrol, batu-batu Merapi sebesar rumah berserakan di pinggir jalan, pohon-pohon mati tertimpa beban abu bercampur kerikil, hingga jalanan yang super licin akibat tertutup abu, kerikil, pasir plus air hujan. Jadilah jalan raya Jogja Semarang seperti disemen dengan abu yang mengeras dan bikin para pengemudi motor terjatuh. Jalur utama ditutup beberapa hari.

Butuh waktu lama agar kondisi pulih seperti sedia kala. Pengungsi berbulan-bulan tinggal di pengungsian. Ketika kembali, rumah mereka sudah terkubur abu

pemakaman massal di sleman via sevenregar.files.wordpress.com

Tragedi ini menyita energi selama berbulan-bulan. Kerugian materi pun tak terelakkan. Setelah Merapi sudah puas akan amarahnya, penduduk pun kembali ke rumahnya dengan rasa trauma mendalam. Korban meninggal dimakamkan secara massal dan penuh doa duka cita dari penjuru nusantara. Bagi para relawan, kenangan aksi kemanusiaan yang telah jadi rutinitas ini tak akan pernah mereka lupakan.

Merapi telah menghancurkan semuanya, sekaligus menjalankan siklus kehidupannya. Tanah yang hancur, perlahan kembali subur. Percayalah, ia hanya mengikuti hukum alam. Selang beberapa tahun, manusia hidup makmur karenanya

hikmah erupsi merapi via www.kaskus.co.id

Tanah yang hancur tertutup abu perlahan ditumbuhi tunas-tunas kehidupan. Kinahrejo yang diterjang awan panas kini jadi destinasi lava tour yang mengagumkan. Pertanian kian subur dan memberikan hasil bumi yang begitu melimpah. Jutaan kubik pasir yang menyebar di sungai-sungai sudah memberikan pencaharian bagi ribuan manusia di bawah sana. Memang seharusnya Merapi meletus. Itu adalah sebuah siklus. Manusia yang wajib waspada dan pelajari tanda-tandanya. Supaya ketika siklus itu datang kembali, tak ada nyawa sia-sia yang harus melayang lagi.

Sudah 8 tahun siklus berhenti? Kapankah ia akan datang kembali?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya