Pengakuan Jujur Pasien yang Nggak Pernah Bermasalah sama BPJS, Mungkin Cuma Lucky Aja Kali Ya

Posted on


Sudah jadi rutinitas sehari-hari saya sebagai penulis Hoopsbyjudy untuk mengecek media sosial atau media online tiap bangun tidur, cari-cari apakah ada topik yang menarik untuk ditulis. Pagi ini, perhatian saya tertuju pada unggahan salah satu akun lambe-lambean, yang menampilkan IG story selebgram asal Malang, Abdulkadir Bachmid atau @d_kadoor. Kadir ini marah besar bahkan sampai mengancam akan melabrak salah satu RS di Malang. Gara-garanya ibunya, sebagai pasien BPJS mendapat pelayanan buruk dari tenaga medis di sana.

Sebenarnya kasus semacam ini juga udah cukup sering saya dengar, entah cerita langsung dari kerabat, atau membaca di media online. Tapi sebagai orang yang cukup sering berobat pakai kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sejujurnya saya justru belum pernah bermasalah atau merasakan perlakuan yang tidak mengenakkan. Selama ini, mau di klinik biasa atau di RS, pelayanan yang saya dapat sih wajar-wajar aja. Biar bisa saling berbagi pengalaman, mencari solusi bersama, dan nggak saling tuduh, yuk simak ulasan Hoopsbyjudy News & Feature kali ini.

Sebagai pegawai muda yang sedang belajar mandiri, BPJS itu sangat penting dan bermanfaat. Setelah baca benar-benar ketentuannya, saya berobat sakit ringan biasa sampai operasi gigi dengan BPJS

Soalnya pakai potong gaji, jadi ya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin via www.panduanbpjs.com

Waktu belum 21 tahun, BPJS saya masih ‘nebeng’ sama ayah yang bekerja di perusahaan swasta. Tiap bulan ya ayah saya yang bayar. Kayaknya dulu cuma pernah sekali dua kali berobat pakai kartu ‘nebeng’ itu. Barulah pas udah kerja, kartu BPJS saya dipindah ke tanggungan kantor. Dipotonglah itu gaji per bulan. Nah, sebagai pegawai muda ini saya baru banyak belajar soal prosedur pengobatan pakai BPJS. Soalnya kalau dulu sakit ‘kan yang riweuh ortu ya.

Paling sering sih sakit ringan biasa; lambung kambuh, pusing, atau demam-demam lucu. Kalau penyakitnya ringan gini saya selalu berobat ke klinik faskes. Kebetulan kantor dan kos-kosan saya di daerah Sleman, Yogyakarta. Tapi saya pernah juga lho operasi gigi impaksi pakai BPJS di rumah sakit besar. Benar-benar free, rawat inap 2 hari 1 malam, dan itu kalau tanpa asuransi biayanya mahal bingits! Satu gigi bisa sampai sejutaan, padahal waktu itu saya cabut 3 gigi sekaligus!

Entah karena lucky antriannya sedikit atau memang sosialisasi BPJS di daerah saya sudah cukup baik, sejauh ini saya belum pernah mengalami pengalaman nggak enak sebagai pasien BPJS. Normal-normal aja

Mendapat pelayanan semestinya  via beritagar.id

Soal pelayanan juga cukup oke kok. Waktu mau operasi impaksi itu, saya datang dulu ke klinik faskes buat diperiksa sama dokter gigi umum dan minta surat rujukan ke RS. Pas bolak-balik klinik buat periksa atau minta rujukan, saya sih bahagia-bahagia aja. Sebelum dibuatkan surat rujukan, saya disuruh milih mau operasi di RS mana. Pilihan saya jatuh pada RS yang kebetulan saya punya rekam medis di sana, tepatnya di RS akademik salah satu universitas di Yogyakarta. Saat operasi di RS, antri pendaftaran, kontrol ABCD sama dokter bedah mulut, saya juga merasa pelayanannya normal-normal aja.

Tapi ya itu lagi-lagi berdasarkan pengalaman pribadi saya yang mungkin tidak punya penyakit berat atau kebutuhan medis yang sangat mendesak. Jadi kalaupun harus mengantri, saya masih oke-oke saja. Namun memang jika membayangkan pasien yang kondisinya mendesak, faktor ‘menunggu antrian’ ini bisa jadi problematis dan bahkan dapat membahayakan nyawa. Meski harus taat aturan, kasus-kasus darurat mungkin bisa dijadikan pengecualian.

Namun dengan mengamati viralnya curhatan @d_kadoor, saya pribadi jadi berpikir jangan-jangan kelompok penikmat BPJS yang tidak bermasalah seperti saya itu cuma minoritas. Kalau begitu, ya memang harus ada pemerataan

‘Kan tujuan utamanya BPJS menjamin kesehatan nasional bagi seluruh rakyat via duajurai.co

Dari viralnya kasus yang dialami Kadir di sebuah RS di Malang itu, saya jadi berpikir jangan-jangan kelompok yang benar-benar bisa menikmati atau memanfaatkan BPJS sebagaimana mestinya itu masih sangat sedikit. Padahal BPJS ‘kan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang tujuan utamanya adalah menyelenggarakan kesehatan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Ya memang penyelenggaraan atau pelaksanaannya di lapangan pasti sangat sulit dan kompleks. Tapi itulah cita-cita bersama yang harus terus berusaha diwujudkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ketidakpuasan, keluhan, dan kritik pedas terhadap pelayanan BPJS yang semakin santer terdengar, pastinya ada sumbernya. Entah karena koordinasi yang masih kurang baik antara pemerintah dan rumah sakit sehingga pelayanan tidak maksimal atau justru masih minimnya pengetahuan masyarakat akan program ini, pelaksanaan BPJS masih jauh dari ideal. Belum lagi masalah kronis Indonesia kalau sudah menyangkut birokrasi, semrawut, tidak rapi, dan mungkin bisa menikung atau menyogok-nyogok. Meski sudah ada regulasinya, program atau pendanaan dari ‘atas’ seringkali tidak bisa diterima oleh masyarakat di ‘bawah’ sebagaimana mestinya.

Antri mungkin sudah risiko, tapi kali ini yang viral dikeluhkan adalah perlakuan tenaga medis yang dinilai diskriminatif terhadap pemakai BPJS. Meski perlakuan itu jelas tak bisa dibenarkan, kayaknya kita juga tidak bisa cuma menuduh dan menyalahkan satu pihak

Padahal mimpinya semua orang di Indonesia pakai BPJS, kenapa harus kena stigma negatif via www.koranperdjoeangan.com

Sewaktu scrolling di kolom komentar unggahan soal @d_kadoor ini, banyak ditemui curhatan senada dengan apa yang dikeluhkan selebgram asal Malang ini. Dari yang merasa diperlakukan kayak warga kelas dua sampai dokter yang katanya tidak mau repot-repot mendiagnosis dan langsung memberi obat sekadarnya kepada pasien BPJS. Mungkin benar ada oknum tenaga medis atau pihak rumah sakit yang tampak enggan menerima pasien-pasien BPJS. Alasannya pun pasti beragam seperti ribetnya klaim BPJS oleh pemerintah yang memang bisa membuat pihak rumah sakit kesulitan.

Tapi jika memang terjadi kejadian tidak mengenakkan, sebagai pengguna, kita berhak buat pengaduan. Biar semua pihak, baik dari pemerintah, rumah sakit, atau mungkin juga pasien, sama-sama berbenah membuat BPJS lebih baik lagi

Semua pihak harus ikut membenahi program yang terhitung masih baru ini via elshinta.com

Namanya juga kebijakan lumayan baru, wajar kalau masih ada trial and error di sana-sini. Pelaksanaannya juga masih jauh dari ideal dan bahkan banyak yang merasa merugikan. Jika memang merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil seperti Abdulkadir Bachmid, keresahan itu memang sudah seharusnya dilanjutkan supaya didengar oleh pihak berwenang. BPJS pun punya hotline resmi BPJS yang bisa kamu lihat di sini. Yang sebenarnya mungkin tidak membantu adalah debat kusir yang hanya fokus menyalahkan satu pihak tanpa melihat gambaran masalah yang lebih luas.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya