Perjuangan Hamun Salsabiela, 11 tahun menunggu dikaruniai momongan

Posted on



Hanum Salsabiela Rais dikenal sebagai presenter dan penulis yang sukses. Novelnya laris dan beberapa di antaranya difilmkan. Namun di balik itu ada kisah hidup terjal yang dialaminya bersama suami.

Tapi, putri Amin Rais ini sempat putus asa. Tapi bangkit lagi dan terus berjuang memohon kepada Allah untuk dikaruniai momongan. “Itu cara Allah mendewasakan saya dan suami. Saya menikah tahun 2005 akhir dan tahun 2016 baru dikaruniai anak. Jadi 11 tahun saya menunggu karunia Allah itu,” katanya.

Rangga, sang suuami tak ingin hidup mereka di luar negeri waktu itu meninggalkan kenangan pahit akibat kegagalan dan putus asa. Dia pun mengajak istrinya ke perpustakaan untuk menulis jejak hidup. Hanum memilih tema traveling yang akhirnya berwujud novel.

“Buku 99 Cahaya Di Langit Eropa bisa dibilang buah kegetiran atau kegalauan saya dan suami karena berbagai kegagalan yang dialami dalam program kehamilan,” tuturnya.

Bagi Hanum, dalam perjalanan hidupnya ibu adalah sosok yang selalu membuatnya lebih tenang. Hanum sempat putus asa setelah 5 kali gagal program bayi tabung, namun ibunyalah yang getol mendorong untuk mencoba lagi.

“Ibu saya selalu membuat saya PD, you’re not walking alone (YNWA) gitu. Bahwa di dunia ini banyak yang punya masalah jauh lebih berat dari kamu. Dan ini membuat saya lebih santai meski sedikit ada perasaan tertinggal, tersisihkan, juga harapan pupus,” terangnya.

Menyaksikan orang yang baru menikah dan cepat punya anak makin membuat psikologi Hanum down. Pada satu titik Hanum yakin untuk mengadopsi anak. “Sejak saat itu saya pergi ke panti asuhan hingga mungkin Allah melihat di saat saya benar-benar pasrah dan sudah menginginkan anak tapi pada satu sisi juga ingin melepaskan harapan saya itu, Allah memberi Sarahza,” tuturnya.

Ada tahap di mana Hanum mengalami perubahan karakter akibat beban psikologis. Ia sempat menutup semua akses terhadap media sosial dan lingkungan luar. Hanum fokus untuk shalat, zikir, dan menenangkan diri. “Saya nggak mau ketemu orang, cuma di rumah,” katanya.

Sempat pula Hanum sampai pada fase ‘mempertanyakan’ kuasa Tuhan. “Ada momen depression. Jadi saya sudah dalam tahap seperti ingin bikin ‘perhitungan’ sama Allah. Saya sempat dalam pikiran saya, saya ini insya Allah perempuan baik-baik. Tapi kok cuma permintaan kecil saya nggak dikasih gitu. Saya sempat berontak. Tapi di satu sisi itu adalah titik di mana orang kalau mau hijrah/berubah mungkin harus depresi dulu. Jadi di satu titik itu saya benar-benar kehilangan arah. Kata suami saya waktu itu, Saya tidak mengenal Hanum yang dulu.”

Rangga tak pernah alpa menguatkan Hanum dan terus berusaha tanpa putus asa. Setiap dua belas hari terakhir masa tunggu program bayi tabung, suami saya pernah mengatakan kata-kata yang sangat membekas.

Waktu itu saya bilang, ”Mas kalau nanti kita nggak punya anak selamanya kamu nggak papa kan?”

Suami saya bilang, ”Num, ingat nggak dulu waktu menikah sama kamu orang kan bilangnya insya Allah membentuk sakinah mawadah warohmah. Hanya itu.

Nggak ada sakinah mawadah warohmah wadzurriyyah. Yang aman yang sejahtera yang damai, ‘dan punya anak’ itu nggak ada,”.

Tapi kini Rangga dan Hanum bahagia. Berkat kesabaran, mereka dikaruniai anak yang pintar dan imut.

(brl/nng)