Perjuangan hidup Bahlil Lahadalia, dari kuli hingga pengusaha sukses

Posted on



Bahlil Lahadalia adalah Ketua Umum BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) 2015-2018. PT. Rifa Capital yang dirintisnya jadi perusahaan induk dari 10 perusahaan lain seperti PT Ganda Nusantara (shipping), PT Pandu Selaras (pertambangan emas), PT MAP Surveilance (pertambangan nikel).

Jauh sebelum itu, Bahlil mengalami masa-masa perekonomian sulit. Penghasilan ayahnya sebagai kuli bangunan dan ibunya buruh cuci pakaian dipakai memenuhi kebutuhan 8 bersaudara. Dari keterbatasan ini, dia menjadi sosok mandiri dan pekerja keras.

“Saya punya satu keberuntungan, dilahirkan dari orangtua yang punya motivasi dan jiwa pantang menyerah yang kuat” katanya.

Sejak kelas 4 SD berjualan macam-macam kue. Saat SMP, berjualan sayur sambil menjadi kondektur angkot. Masuk SMEA, menjadi sopir angkot setiap pulang sekolah hingga pukul 10 malam.

Lulus SMA tahun 1995, berangkat ke Jayapura berbekal ijazah, 3 potong pakaian, dan uang Rp 400 ribu. Semasa kuliah di STIE Port Numbay menjual jasa dorong gerobak di pasar serta jasa membuat makalah. Lulus S1 merintis bisnis dan sampai menduduki posisi direktur wilayah.

Di usia 26 tahun digaji Rp 35 juta per bulan, Bahlil mengelola para karyawan yang bergelar doktor. Namun hanya setahun, pada akhir 2002 ia memilih keluar. Bahlil merintis perusahaan di bidang infrastruktur dan pernah menemui masa sulit, yakni 2 bulan karyawan sempat tak gajian.

“Saya tidur jam 3 subuh, mendekati orang, boleh dikatakan jadi budaknya. Kita harus datangi Kepala Dinas kalau mau cari proyek, pimpinan proyek, di pinggir jalan, macam-macam. ‎Yang penting bagaimana agar orang percaya pada saya,”

Perusahaan perlahan bangkit, kini dikenal PT. Rifa Capital. “Saya menghargai betul pikiran cerdas itu mahal. Orang yang kerja keras, pantang menyerah itu mahal, dan wajib dihargai mahal”.

(brl/nng)