Pro Kontra Kebijakan Zonasi Sekolah Makan Korban, Siswi SMP di Blitar Sampai Bunuh Diri Karenanya

Posted on


Sebuah sistem, apapun bentuknya dan bagaimanapun ia diterapkan, tentu harus terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Nggak kebayang ‘kan tahun udah makin bertambah, zaman mulai maju, teknologi merajalela, tapi kita masih menerapkan sistem lawas yang dipakai saat Soekarno-Hatta masih menjabat. Selain udah kuno, sistem tersebut ya jelas udah nggak relevan lagi. Alih-alih bikin kehidupan makin tertata, yang ada malah bikin makin runyam.

Pembaruan sistem biasanya dilakukan ketika ada hal-hal yang nggak lagi cocok dengan sistem tersebut. Contohnya aja sistem pendidikan. Mungkin kamu salah satu orang yang mengeluhkan kenapa kebijakan yang terkait pendidikan sering banget diubah-ubah. Kayak yang belum lama ini dirasakan para pelajar yang baru lulus, mereka harus membiasakan diri dengan sistem zonasi yang dibangun Kemdikbud. Bahkan kabarnya, gara-gara sistem inilah seorang siswi SMP di Blitar sampai memutuskan bunuh diri! Waduh, gimana ceritanya sih?? Yuk, simak ulasan Hoopsbyjudy News & Feature berikut ini!

Siswi di Blitar, Jawa Timur, gantung diri karena takut nggak diterima di SMA favorit. Gara-garanya, ia berasal dari kabupaten

Rumah yang diduga kos-kosan EP via www.tribunnews.com

EP (16), siswi SMP yang tahun ini harusnya masuk SMA, memutuskan mengakhiri hidup di kamar kosnya di Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. EP diketahui gantung diri lantaran takut nggak diterima di SMA 1 Blitar karena sistem zonasi. Padahal EP adalah murid berprestasi dan pernah ikut olimpiade. Dilansir dari Detik, EP memang berasal dari kabupaten. Kemungkinan baginya untuk bisa diterima di SMA 1 Blitar memang tipis. Sistem zonasi yang berlaku saat ini membuat presentase terbesar bisa diterima di sana hanya milik mereka yang tinggal di wilayah sekitar sekolah.

Sistem zonasi: sekolah harus menerima 90% peserta didik dari zona dimana sekolah berada. Sisanya, 5% untuk siswa/i berprestasi, 5% lagi untuk perpindahan antar daerah atau luar negeri.

Sistem zonasi ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak tahun lalu. Sederet fakta jadi alasan kenapa sistem baru ini diberlakukan

Penerapan sistem zonasi via kaltim.tribunnews.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Salah satu yang dibahas di dalamnya adalah sistem zonasi. Sebenarnya sistem zonasi ini sudah berlaku sejak tahun lalu, tapi tahun ini ada beberapa hal yang direvisi.

Kebijakan ini lahir berdasarkan monitor pemerintah soal PPDB sebelumnya. Bahwa ditemukan adanya kesenjangan, baik secara ekonomi maupun dari segi jumlah peserta didik, antara sekolah-sekolah favorit dengan sekolah yang bukan favorit dan ada di pinggiran. Persaingan yang begitu bebas jadi sebab kenapa kesenjangan ini bisa terjadi. Anak-anak berprestasi, anak pejabat, atau anak-anak yang ortunya kaya, berkumpul jadi satu di sekolah-sekolah favorit. Sekolah ini berkembang lebih pesat karena mendapat kucuran dana dari wali murid berduit, fasilitas terus berkembang. Bandingkan dengan mereka yang biasa-biasa saja, hidupnya biasa-biasa aja, dan sekolah di tempat yang juga biasa-biasa aja.

Tahun lalu sistem zonasi ini sempat ramai dibahas dan nggak sedikit yang nggak setuju. Karena banyak banget kendalanya. Tapi toh, tahun ini tetap bakal diberlakukan

Timbulkan pro kontra via bengkulu.antaranews.com

Selayaknya sebuah sistem baru yang selalu menimbulkan pro kontra, pun dengan sistem zonasi ini, yang ramai dibahas dimana-mana. Banyak mereka yang nggak setuju karena dianggap kurang adil. Terlebih bagi pelajar pandai dan nggak bisa masuk sekolah favorit cuma karena domisilinya jauh dari sana. Nggak cuma itu, dilihat dari efektivitasnya, ternyata sistem ini juga masih ada kendala di sana-sini. Seperti masih banyak sekolah favorit yang terkumpul di satu kelurahan, belum adanya pemerataan fasilitas sekolah, hingga kurangnya sosialisasi. Contohnya si EP tadi, yang kurang memahami sistem ini sampai-sampai “menyerah” dengan cara miris.

Gimanapun sistem yang berlaku, stres cuma gara-gara masalah pendidikan itu adalah hal yang sia-sia. Apalagi untuk kasus EP yang masih SMP dan punya segudang kesempatan baik di depan

Nggak perlu lah galau gara-gara sekolah via health.usnews.com

Ya tapi kembali lagi ke kesiapan kita menghadapi segala yang terjadi. Gimanapun sistem yang berlaku, stres atau depresi cuma karena soal pendidikan itu bukanlah hal yang bijak. Setiap orang tentu punya cara masing-masing dalam meraih kesuksesan. Ada yang sekolah di sekolah biasa, tapi pas udah kerja gajinya lebih gede dari lulusan sekolah favorit. Intinya segala kemungkinan bisa aja terjadi. Masa depan cerah nggak cuma hanya bisa diukur dari sekolah dimana kita dulu.

Melihat EP yang sudah harus menghadap Sang Ilahi di usia sangat belia, membuat kita berpikir, seandainya ia mau berpikir lebih positif, pasti keputusan bunuh diri nggak akan terbesit di otaknya. Selain itu, kita juga bisa belajar kalau pendampingan ortu itu penting sekali, terutama pada anak yang masih labil jiwanya. Ortu juga nggak seharusnya membebani anak dengan sederet tuntutan, termasuk kewajiban diterima di sekolah favorit, toh ke depannya label ‘sekolah favorit’ bakal terhapuskan dengan sistem zonasi…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya