[REVIEW] 4 Faktor Penyelamat dalam Film Danur 2: Maddah yang Bikin Jantung Kamu Olah Raga Tipis-Tipis

Posted on

Review film Danur 2: Maddah

Sajian awal Danur 2: Maddah memang ampun-ampunan bagi yang penakut. Kemasan adegannya mengambil gaya banyak film horor yang pernah berhasil sebelumnya. Sayang, penyelesaian konflik yang disebut-sebut merupakan kisah nyata ini justru mengundang tanya, “Ah, masa sih ini bukan fiksi?”

 

Selamat malam Jumat!

Semoga ketika membaca telaah (review) ini kamu nggak sedang berada di kamar sendirian malam-malam. Pun sendirian, percayalah, ada insan yang menemanimu. Siapa pun itu. Seperti kutipan yang saya tangkap dari film Danur 2: Maddah:

Yang nggak kelihatan itu bukan berarti nggak ada.

Judul dalam artikel ini sebenarnya membutuhkan banyak penjelasan dan memunculkan pertanyaan, Kenapa sih Danur 2: Maddah butuh diselametin? Bukankah nggak ada yang sedang ulang tahun? Jadi, pada film Danur sebelumnya, banyak aroma-aroma kekecewaan yang tercium. Mulai dari mereka yang merupakan pembaca setia novel Danur yang merasa jalan cerita film jauh berbeda, hingga penggemar horor yang merasa gagal menemukan kengeriannya. Sekuel kedua kali ini, sutradara Awi Suryadi berhasil menyelamatkan aksi Prily dan kawan-kawan. Tapi sayangnya baru sekadar selamat saja nih, belum menggelegar untuk ukuran film horor Indonesia yang standarnya makin tinggi.

BACA Juga :   Tinggal di Daerah Tropis tapi Selalu Menghindari Sinar Matahari. 7 Hal Buruk Ini Bakal Terjadi

1. Penyelamat film Danur 2: Maddah adalah plot yang lebih rapi dan penanjakan cerita yang ciamik dibanding Danur: I Can See Ghost

Siapa tuh yang main piano? via www.wowkeren.com

Film horor memang selalu identik dengan adegan mengagetkan yang cukup ngeselin. Tapi setelah tensi ketegangan berkurang, plot dan narasilah yang pada akhirnya terngiang sampai penonton pulang. Menurut saya sih jalan cerita adalah hal yang nggak boleh jadi recehan di sajian horor mana pun. Tentu saja karena kita sedang berhadapan dengan cerita yang menyinggung takhayul, di mana nggak semua orang percaya hal gaib. Jalan cerita A-B-C sederhana nggak akan bisa menyelamatkan keberhasilan film horor meskipun porsi jumpscare dan make up hantunya sudah pol nampol.

Danur 2: Maddah diawali dengan establishing yang cukup bikin bergidik di mana seorang kakek-kakek bercerita tentang hantu perempuan yang suka memainkan piano. Sejurus kemudian dia merapalkan lagunya. Na na na na na …. Duh, ini jenis establishing yang kreatif meski pada akhirnya sedikit membocorkan plot yang seharusnya bisa jadi twist.

BACA Juga :   Unik, Bapak ini Kasih Nama "Persib 1933" buat Anaknya. Gratis Nonton Persib Seumur Hidup Nggak, Ya?

Nah, penanjakan cerita dan penampakan demi penampakan yang ditampilkan di awal juga nggak kayak kerupuk garing yang hanya bikin teriak-teriak, lalu sudah. Kengerian hantu Noni Belanda dengan postur tinggi ditampilkan berulang-ulang dengan jenis kengerian yang beda. Sumpah, hal ini sangat menyelamatkan film ini dari kegagalan.

2. Bukan lagi kuntilanak yang suka nyisir, karakter hantu di sekuel Danur ini lebih ngawur dan hobi banget resek

Sophia Latjuba yang porsi tampilnya sangat sedikit via hiburan.metrotvnews.com

Jika kamu penonton film Danur instalasi pertama, kamu mungkin sulit move on dari karakter hantu tukang nyisir yang diperankan Shareefa Danish. Tapi tenang, di Maddah ini kamu akan ketemu hantu bule yang nggak kalah seram. Secara pribadi saya nggak merinding kalau hanya lihat hantu lokal, tapi kalau hantunya sudah tinggi besar, berambut pirang, bergaun mewah layaknya Noni Belanda dengan ketawa yang nyablak, ampun deh! Sebelumnya saya mohon maaf, Guys, kalau saya agak ngasih bocoran. Tapi sungguh, karakter hantu di Maddah ini sangat resek, ngerjain manusia secara totalitas.

BACA Juga :   Penampilan makin tertutup, 8 pesona Chacha Frederica mantap berhijab

3. Porsi jumpscare, meski agak terlalu banyak tapi dihadirkan dalam tensi yang pas. Sutradara berhasil menukil gaya James Wan

Tokoh Risa kesurupan, tapi tetap imut. via www.teen.co.id

Jumpscare selama ini adalah elemen yang hampir fardhu ‘ain buat film horor. Tapi jumpscare yang berlebihan juga sangat beracun dan bikin penonton malah kebal dengan kengerian. Musik yang dihadirkan dalam Maddah lebih banyak mengambil bunyi-bunyi efek yang alami, bikin penonton merasa lebih dekat dan serasa ada di set. Sayangnya musik ala biola rusak dan piano gonjreng agak berlebihan. Musik ini seperti sengaja dibuat pol-polan untuk menyelamatkan beberapa adegan yang kurang seram. Tapi melihat penonton satu studio yang histerisnya jor-joran, saya jadi percaya jumpscare dalam Maddah memang elemen penyelamatnya juga.