Review Hotel New Saphir: Wajah Boleh Lama tapi Modern di Dalamnya

Posted on


Review Hotel New Saphir Yogyakarta

Salah satu opsi terbaik nih di kelas harganya, terutama untuk yang memprioritaskan kualitas kamar.

.

.

Sebagai putra daerah asli Jogja yang berkediaman di kawasan seputar Ambarukmo atau Seturan, hotel Saphir selalu saya lewati dalam jalur utama perjalanan menuju sekolah, entah saat SMP (Negeri 5), SMA (Negeri 9), kuliah (UGM), bahkan sampai kini menuju ke kantor Hoopsbyjudy sekalipun. Bertahun-tahun lamanya rute sehari-hari saya tak lepas dari lintasan depan halaman hotel Saphir. Di kala hotel-hotel megah belum menjamur di Jogja seperti sekarang, hotel Saphir dulu tampak seperti pusat kemewahan. Setiap kali melewatinya, saya berucap dalam hati, “pasti isinya anak-cucu suharto orang-orang kaya”. Bisa jadi dahulu saya lebih penasaran dengan isi hotel Saphir dibanding rasanya pacaran, merokok, alkohol, putaw, dst.

Alhasil, pertama kali menginjakkan kaki di dalam hotel New Saphir, saya merasakan romantisme, “wah, akhirnya bisa menginap di sini”. Kasihan ya, sungguh norak. Padahal, sebenarnya saya sudah beberapa kali menginap di penginapan yang lebih bikin jebol dompet daripada hotel berbandrol mulai dari kisaran 550 ribuan ini, tapi tetap saja memori atas kedekatan dan kekaguman di masa lalu itu membuat hotel ini secara pribadi terasa lebih mewah.

Nah, di edisi kedua Review Hotel ini saya akan berbagi kisah pencarian jawaban atas rasa penasaran saya yang dipendam bertahun-tahun #lebay #orangkampung

  1. Pertama-tama, disarankan tidak naik sepeda motor ke sini

Ini nih tampilan gedungnya via www.agoda.com

Sebenarnya kesan kurang baik justru yang pertama kali saya dapatkan di sini. Soalnya tidak ada akses langsung dari parkiran motor menuju lobi hotel sehingga mau tidak mau harus jalan kaki memutar balik ke halaman hotel dan masuk dari pintu utama. Bukan bermaksud rewel, tapi hotel New Saphir ini terletak tepat di pinggir jalan raya yang super ramai tanpa adanya pagar yang menutupi pandangan dari jalan raya itu ke seluruh muka hotel ini. Alhasil, kita bakal jadi objek pemandangan para pengendara yang sering kena antrian panjang lampu merah. Buat sebagian orang, hal ini bikin risih (kecuali justru yang ingin pamer). Belum lagi seorang satpam sempat semi-membentak karena saya celingak celinguk mencari-cari jalur lain menuju lobi. Mungkin kita bisa ambil konklusi bahwa hotel ini memang bukan untuk insan-insan penunggang roda dua, tapi ya adalah konsekuensi jika kemudian ada dari mereka yang  bisa menulis di sini 🙂

Untungnya, impresi awal yang negatif itu sirna tatkala masuk di lobi yang mewah dan berinteraksi dengan para pegawainya yang ramah. Selain si “oknum” satpam tadi, sebenarnya pegawai-pegawai lain yang saya temui di sini tampak tertib dengan tuntutan keramah-tamahannya terhadap tamu. Begitu juga ketika satpam berbeda yang saya temui di malam hari– saat balik ke hotel sepulang nonton pameran–sempat mencegat dan bertanya lembut, “ada yang bisa saya bantu?”. Kombinasi antara kesopanan dan kecurigaan beliau ini membuat canggung sih. Ingin sekali saya jawab, “Sumpah, nggak ada Pak, saya cuma mau balik ke kamar dan saya nggak bakal nyasar ke ruangan penyimpanan brankas hotel. Mungkin justru Bapak yang perlu saya bantu?”

2. Segalanya baik begitu masuk ke dalam hotel, terutama kamar tidurnya apik nian

Ini berantakan karena tamunya sih 🙂

Entah tepatnya kapan Saphir mengubah namanya menjadi New Saphir. Naga-naganya ini merupakan langkah branding untuk menunjukan bahwa Saphir sudah memodernisasi layanan-layanannya. Ini jelas kebutuhan strategis bagi hotel-hotel berumur di Jogja agar tak terlibas pertumbuhan hotel-hotel anyar. Sebagian besar hotel berbintang lawas di Jogja memang mulai kerap dikeluhkan karena kondisi fisik yang tampak tergerus usia dan sebagainya.

Untungnya New Saphir bergerak cepat. Kendati tampilan luar gedungnya tak banyak berubah, namun isi hotelnya sangat bisa bersaing. Dari lobi hingga lorong-lorong kamarnya tampil modern. Dan yang paling mantap adalah kamarnya. Saya menginap di kamar Superior Room (paling standar), yang mana menurut saya tergolong kamar hotel paling cakep dibanding kamar hotel-hotel bintang empat yang lain.

Karpetnya yang terhampar di sekujur lantai punya corak cantik yang padu dengan ornamen-ornamen lainnya. Ditambah pencahayaannya yang pas, kesan visual kamar ini elegan dan menawan. Lebih luas juga dari yang terlihat di kebanyakan foto-foto yang ada di internet. Satu lagi, kamar mandinya menyediakan bathtub. Meskipun wujudnya standar dan tak terlalu besar, namun sangat jarang lho ada fasilitas bathtub di hotel-hotel dengan kisaran harga di bawah 700 ribu di Jogja.

3. Sarapannya komplet dan tidak mengecewakan

tempat makan luas

Urusan makanan juga sesuai kelasnya. Tempat makannya cukup luas, dan menunya lengkap. Di luar menu wajib seperti buffet atau roti, ada juga gudeg, omelet, dan sop daging, serta berbagai racikan salad. Secara umum, semua menu yang sempat saya coba rasanya enak. Apalagi nasi gorengnya, lezat dan memuaskan kok.Pokoknya tak ada keluhan perkara santapan.

4. Menikmati fasilitas kolam renang dan gym yang terasa eksklusif

Kolam renang sepi

Saya tak sempat mencoba naik ke lantai atas, karena memang tidak ada keperluan. Baik kamar saya atau semua fasilitas tambahannya ada di lantai dasar. Seperti hotel “kawakan” yang lain di Jogja, model arsitektur New Saphir tidak vertikal dan cenderung melebar atau memanjang. Pasalnya, dulu terdapat aturan pembatasan tingkat bangunan di Jogja (idealnya, maksimal empat lantai)–yang kini mulai banyak dilanggar. Ini kelebihan sih untuk mereka yang kakinya berat untuk dibawa naik turun lantai.

Lantas apa saja fasilitas luar kamar dari New Saphir? Saya tidak sempat menilik lapangan tenisnya, tapi saya mencoba kolam renangnya yang lumayan bagus dan kebetulan sedang sepi sekali. Setidaknya ada dua pilihan tingkat kedalaman, yakni 1 dan 1,8 meter. Oiya, sebelum itu saya juga menyempatkan untuk mencoba untuk olahraga kecil-kecilan di ruang gym-nya. Dan ini sih bukan cuma sepi lagi namanya, bahkan yang jaga saja tidak ada. Alatnya sempat saya coba satu-satu (iseng kan?) dan ternyata berfungsi semua. Jadi serasa punya gym pribadi kan?

5.  Lokasinya tepat di sentral hiruk pikuk kota Jogja, lebih cocok lagi untuk yang doyan ke pusat perbelanjaan

Saphir Square, pusat perbelanjaan tepat di sebelah hotel New Saphir via mapio.net

Beberapa kali sempat disinggung di paragraf awal, lokasi New Saphir terletak di jalan Laksda Adisucipto selaku jalan raya utama yang menerobos pusat perkotaan Jogja. Bisa dibilang New Saphir lebih pas untuk kamu yang datang untuk keperluan bisnis, atau hendak main-main di wilayah urban. Lebih-lebih bagi kamu yang ingin dekat-dekat dengan mal atau pusat perbelanjaan. Soalnya letak New Saphir tepat di sebelah Saphir Square, dan hanya berjarak satu lampu merah dengan Ambarrukmo Plaza.

Nggak tanggung-tanggung, jalan raya depan New Saphir adalah jalan yang terkenal selalu padat merayap. Jadinya agak bikin dongkol ketika kamu hendak membuka pintu utama untuk keluar, langsung deh dihadapkan dengan kenyataan jalanan macet, hawa polusi, terik kota, dan masalah-masalah sosial, bikin malas mau check out, haha.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya