Review Omah Kayu Homestay, Rasakan Ilusi Tinggal di Rumah Kayu yang Jauh dari Perkotaan

Posted on


Pengalaman visual yang ditawarkan sangat Instagramable dan cocok untuk insan-insan yang butuh momen pelarian sejenak dari hiruk pikuk keseharian.

Dalam edisi Review Hotel yang ketiga dari Hoopsbyjudy, kita mencoba menuturkan pengalaman bermalam di sebuah homestay. Hmm, agak kontradiktif ya, katanya Review Hotel tapi yang diulas adalah homestay. Makanya, supaya tak salah persepsi, Hoopsbyjudy akan jelaskan secara singkat dulu apa itu yang disebut homestay

Perbedaannya tidak sesederhana bahwa  homestay pasti punya bentuk arsitektur yang lebih menyerupai rumah dibanding hotel yang berupa gedung-gedung bertingkatDibedah dari penamaannya, homestay terdiri dari “home” yang berarti “rumah” dan “stay” yang berarti “tinggal”. Alhasil, “homestay” bisa diartikan “tinggal di rumah” karena ini merujuk pada aktivitas (biasanya) mahasiswa rantau atau wisatawan yang menumpang untuk sementara waktu di rumah warga dalam rentang waktu tertentu. Bisa berbayar ataupun tidak, tapi jika berbayar pun nuansanya masih seperti “menumpang”. Artinya, pemilik rumah akan tinggal di sana juga, mengharuskan banyak interaksi, mungkin makan bersama-sama di meja makan, dan sebagainya. Fasilitasnya juga seadanya, sebagaimana rumah-rumah kebanyakan.  Ada kondisi yang mendorong untuk menghidupkan suasana rumah secara bersama-sama. bahkan kadang kita harus ikut berbaur dengan tetangga dan lingkungan sekitar.

Nah, penggunaan istilah homestay lalu akhirnya menyimpang ketika menemui kebutuhan bisnis penginapan. Kini, sebagian homestay dijalankan dengan logika seperti hotel atau guest house.  Homestay menjadi konsep kemasan jualan layanan inap. Bentuk bangunannya saja yang seperti rumah, tapi fasilitasnya seperti hotel. Ada “house rules” atau aturan tamu yang tertulis, fasilitas-fasilitas seperti sarapan yang siap saji, internet, air panas, AC, dan lain sebagainya yang bisa kita dapatkan secara instan. Homestay bisa disewa utuh satu rumah, namun jika menyewa per kamar maka biasanya kita tak akan terlalu kenal dengan penyewa kamar lainnya atau malah pemilik rumah itu sendiri. Makanya homestay untuk jenis ini bukanlah “tinggal di rumah” melainkan menginap di hotel yang menawarkan pengalaman buatan seolah tinggal di rumah.

Sedikit banyak sudah bisa dipahami kan? Nah, yang akan Hoopsbyjudy bahas kali ini adalah sebuah homestay dengan sistem ala hotel tadi. Maka dari itu, cukup relevan untuk kita mengategorikan tulisan ini kemudian sebagai Review Hotel. Dan yang beruntung kita pilih adalah Omah Kayu Homestay di Yogyakarta. Simak!

1. Sesuai namanya, Omah Kayu mengandalkan konsep rumah inap yang terbuat dari kayu

Pertama, Omah Kayu terletak di  Jl. Parangtritis KM 4 (masuk jalan kampung sedikit sih), Desa Saman II RT 10, Bangunharjo, Bantul, Yogyakarta. Cuma berjarak tipis dari perempatan ring road selatan Jogja. Lantaran lokasinya tergolong di kawasan kota bagian selatan, maka Omah Kayu paling strategis untuk kamu yang berorientasi menjelajahi sisi seni dan budaya jogja. Terbukti, saya sendiri menginap di sini untuk kepentingan datang di dua acara seni pada malam yang sama: 1) acara Festival Musik Tembi dan 2) acara konser musik rock di Kedai Kebun. Kendati tempatnya berbeda–Omah Kayu terletak di tengah dari lokasi kedua acara itu–tapi dua-duanya bisa dikunjungi dengan ditempuh dalam waktu cuma kurang dari 15 menit dengan sepeda motor.

Konsep bangunannya sendiri terbuat dari kayu. Kelihatan apik sekali kan dari fotonya? Belum lagi taman hijau yang asri di halamannya. Tapi ini memang kreasi desain yang sengaja dibuat sedemikian rupa, karena Omah Kayu sebenarnya terletak di tengah pemukiman warga yang lingkungan kanan-kirinya sangat general dan biasa-biasa saja. Maka dari itu Omah Kayu memasang pagar dan dinding tinggi yang mengurung dan mewatasinya dari rumah-rumah di sebelahnya. Jadi kita seakan diisolasi dari dunia luar untuk disuguhi pengalaman visual yang berbeda, seakan sedang berada di daerah-daerah wisata jauh dari perkotaan.      

2. Kamarnya tentu juga bertabir oleh kayu, tapi sayangnya tidak kompak dengan kamar mandinya

Omah Kayu punya lima kamar. Kamar yang saya pilih punya fasilitas yang standar untuk harga 200 ribuan di Jogja. Ada televisi dan AC tanpa kulkas atau mesin pembuat air panas. Yang istimewa adalah bahwa material ruangnya serba kayu. Ranjangnya berwarna oranye dengan sepasang selimut berwarna merah marun. Secara estetika sih menawan. Kebersihannya juga amat terjaga. Yakin deh, kalian pasti sempat terlintasi pikiran, “bikin rumah kayak begini asyik juga kayaknya”. Sayangnya, menjadi kurang total dan paripurna ketika kamar mandinya masih tetap menggunakan dinding dan lantai keramik putih.

3. Sarapan nasi goreng yang sederhana namun lezat

Jangan harap menu sarapan di homestay seharga Omah Kayu ini disajikan secara prasmanan. Menunya sudah ditetapkan dan memang rumahan. Saat sarapan, saya dapat nasi goreng telur yang ala kadarnya tapi nikmat di lidah. Kelebihannya dibanding sarapan mewah di hotel-hotel adalah induk semang atau pengurus Omah Kayu akan menyesuaikan waktu penyajian sarapan sesuai kebutuhan kita. Tidak harus ikut aturan main di hotel yang biasanya hanya memberikan akses sarapan antara jam 7-10 pagi.

4. Kembali ke perbincangan soal konsepsi homestay di paragraf awal tadi, Omah Kayu bisa dikatakan representasi kuat dari pergeseran definisi homestay modern

Pertama kali masuk ke halaman Omah Kayu, saya disambut oleh lantunan musik kibor dengan melodi menyerupai lagu-lagu oldies. Itu bukan musik rekaman yang diputar bak mal atau tempat hiburan, tapi kebetulan sang pengurus rumah sedang bermain kibor di lantai atas. Melihat saya tampak ragu memasuki pintu rumah, ia menyapa, “masuk-masuk”. Cuma modal sebut nama, tanpa dicek lagi sama sekali orderan saya lewat sebuah aplikasi hotel dan tanpa obrolan administrasi apapun, ia langsung mengarahkan saya ke kamar yang sudah disediakan dengan ramah.

Si ‘Bapak’ ini satu-satunya insan yang melayani para tamu di Omah Kayu. Ia (saya lupa menanyakan namanya) yang menyiapkan sarapan, menyapu lantai dan halaman, mengganti kasur, bahkan sampai tidur di kursi panjang dekat motor-motor yang terparkir di tengah malam. Semua dikerjakannya sendiri, tanpa karyawan lain.

Yup, di satu sisi memang terasa upaya menyuguhkan pengalaman tinggal di rumah warga yang lebih merakyat dan otentik, berjarak dengan sensasi modern dan metropolitan di hotel. Tapi harus diakui Omah Kayu tetap adalah homestay modern. Kita sadar bahwa kita adalah tamu yang membayar dan diposisikan untuk dilayani. Apalagi luasan Omah Kayu ini hanya sepetak kecil, sehingga melongok sedikit saja ke arah gerbang yang terbuka sudah menyadarkan bahwa kita sejatinya tidak ke mana-mana. Masih di perkotaan dan hiruk pikuk keseharian yang sama. Ada kalanya justru kesan tanggung yang diperoleh: tidak mendapatkan impresi kemewahan (karena saya harus buka gerbang sendiri ketika pulang, lalu sempat harus mencolokkan steker untuk menyalakan dispenser di ruang makan), tapi di sisi lain juga tidak mendapatkan pengalaman homestay yang tulen. Apa yang dipersembahkan oleh Omah Kayu hanya ilusi pelarian kita dari kejenuhan akan situasi dan atmosfer kekotaan.

Hmm, tapi sejujurnya kalau kamu tidak ingin terlalu ruwet merenungkan hal semacam ini, Omah Kayu tetap pilihan oke atas suguhan pengalaman visual dan sajian ilusi itu tadi yang cukup beda. Yakinlah ini tempat menginap yang mampu memenuhi hasratmu berfoto-foto, apalagi untuk ukuran harga kisaran 200 ribu rupiah. Minimaldominasi perpaduan warna kayu dan hijaunya taman indah bikin sejuk di mata dan hati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya