Secercah Cahaya Bagi Dunia Pendidikan. Kisah Istana Belajar di Banten Ini Begitu Menginspirasi

Posted on

Istana Belajar Untuk Penerus Bangsa

Dunia pendidikan Indonesia mungkin memang jauh dari kata ideal dan masih banyak membutuhkan perbaikan. Bahkan menurut Indeks Pendidikan UNESCO, sebagaimana dilansir dari DW, Indonesia menempati posisi 108 dunia dengan skor 0,603 di mana hanya sekitar 44% penduduk menyelesaikan pendidikan menengah dan 11%-nya harus putus sekolah. Posisi tersebut jauh di bawah negara-negara tetangga kita seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan bahkan Thailand. Bukan hanya ketinggalan di antara negara-negara ASEAN saja, posisi itu juga menempatkan Indonesia di bawah negara seperti Palestina, Samoa, dan Mongolia.

Mungkin terdengar klise, tetapi masalah keterbatasan ekonomi dan infrastruktur masih menjadi salah satu momok terbesar yang menghantui dunia pendidikan Indonesia. Bukan hanya pemerintah yang wajib memperbaiki situasi ini, kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat juga dibutuhkan supaya mimpi akan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik segera tercapai. Seperti inspiring story dari tanah Banten ini. Dengan mengambil langkah-langkah kecil, sebuah yayasan bernama Yayasan Isbanban membantu mewujudkan mimpi besar anak-anak yang harus putus sekolah di tengah jalan. Mau tahu bagaimana kisahnya? Yuk simak barang Hipwee News & Feature!

BACA Juga :   8 Momen kehangatan Saykoji dan istri yang jarang terekspos

1. Minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan membuat dunia pendidikan di Banten kian tertinggal

Dibutuhkan kesadaran tinggi untuk pendidikan via isbanban.org

Banten merupakan salah satu potret tertinggalnya pendidikan di Indonesia. Minimnya infrastruktur serta kurangnya tenaga pengajar menjadi akar permasalahan pendidikan di sana. Banyaknya tenaga honorer yang tersebar di Banten menandakan bahwa dunia pendidikan masih butuh perhatian khusus dari Pemerintah dan Dinas Pendidikan.

“Demokratisasi itu bukan hanya perkara politik, tapi juga soal demokratisasi pendidikan. Setiap warga memiliki hak yang sama atas layanan pendidikan. Pendidikan formal maupun nonformal masih menjadi prioritas utama agenda pembangunan di Banten, di samping kesehatan dan infrastruktur,” terang Gubernur Banten, Rano Karno, lansiran Berita Satu.

2. Berangkat dari mirisnya ketertinggalan pendidikan di Banten, Istana Belajar Anak Banten hadir sebagai penopang pendidikan bagi penerus bangsa

Taman baca membawa asa via isbanban.org

Istana Belajar Anak Banten (Isbanban) berdiri pada tanggal 10 februari 2013 atas rasa keprihatinan sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Banten Muda dan Forum OSIS Banten terhadap minimnya pendidikan di Banten. Karena memiliki kesamaan misi untuk memajukan pendidikan Indonesia, khususnya di Banten, kedua komunitas tersebut sepakat mendirikan sebuah wadah belajar bernama Taman Baca.

BACA Juga :   Kisah bocah 5 tahun bantu kerjaan kakeknya, dari nyuci sampai berkebun

“Alasan pertama mendirikan Isbanban berawal dari pengalaman pribadi saya saat kecil ngalamin susahnya untuk bisa sekolah karena faktor ekonomi keluarga. Kedua, karena kurangnya kesadaran pendidikan dan minat baca anak-anak di Banten,” jelas Panji Aziz Pratama, ketua umum Isbanban, saat dikonfirmasi Hipwee.

3. Kegiatan edukatif yang kontinu membuat Isbanban berkembang dari komunitas menjadi yayasan. Program edukasi yang mereka jalankan pun kian bermanfaat bagi masyarakat

Kegiatan edukatif sangat perlu agar kesadaran pedidikan terus tumbuh via isbanban.org

Taman Baca dan Minggu Belajar adalah dua program awal gagasan Isbanban. Sudah ada 14 Taman Baca yang tersebar di 7 kabupaten dan kota se-Banten. Dari ke 14 Taman Baca tersebut sudah ada lebih dari 2000 koleksi buku, lho. Volunteer yang tergabung dalam program edukasi Isbanban dikhususkan dari kalangan pelajar.

“Kenapa kita memilih kalangan anak muda? Alasannya karena kita ingin menumbuhkan rasa empati sejak dini terhadap pendidikan bagi pelajar maupun mahasiswa,” tambah Panji.