Sepeda yang mempersatukan warga tiga kampung

Posted on


Hoopsbyhudy.com – Suasana Desa Lopati, Minggu (15/4) itu sepi. Tak banyak orang yang beraktivitas di luar rumah. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, di mana matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinar. Menyusuri lebih dalam, sampailah Hoopsbyjudy di kampung Paten yang masih terletak di Desa Lopati, Bantul.

Di rumah sederhana yang posisinya agak lebih tinggi dari rumah lainnya, Hoopsbyjudy ditemui dan dijamu Purwo Sugianto, sang empunya rumah. Sosok yang sudah lanjut usia ini merupakan orang yang dituakan di kampung Paten. Tak lupa istrinya menyuguhkan segelas teh hangat dan juga sepiring gorengan sebagai teman berbincang-bincang.

Purwo Sugianto bukan hanya dituakan saja. Ia juga berperan dalam harmonisnya warga tiga kampung yang ada di Desa Wisata Lopati ini. Cara mempersatukan warga pun dilakukan dengan cara yang asyik, yaitu mendirikan sebuah komunitas sepeda. Komunitas ini diberi nama Pitsa alias Pit-pitan Sak Anane, yang dalam bahasa Indonesia berarti bersepeda dengan sepeda seadanya.

Awalnya pria yang rambutnya sudah memutih ini terinspirasi dari orang-orang yang bersepada di jalan raya. Di situ ia melihat orang-orang senang dan guyub hanya dengan bersepeda. Tak pandang usia dari yang muda hingga yang tua sekalipun. Berangkat dari situ, iapun mengajukan ide untuk mengadakan agenda bersepeda pada pertemuan-pertemuan desa. Tak disangka, ide baiknya ini disambut positif oleh rekan-rekan warga.

“Akhirnya mulai kegiatan bersepeda, namun belum terbentuk Pitsa. Awalnya lima sampai enam orang, minggu per minggu semakin bertambah,” terangnya sambil menyeruput teh hangatnya.

foto: Instagram/@rohmad_1928

Setelah semakin banyak yang ikut, mulailah mereka membentuk sebuah komunitas. Namun waktu itu namanya belum Pitsa. Dulu komunitas yang mayoritas anggotanya memakai sepeda onthel ini dinamakan Sepeda Onthel Paten yang kemudian disingkat SOP.

Komunitas yang berdiri tahun 2015 ini kemudian mendapat banyak anggota baru. Setelah satu tahun, anggota yang terdaftar mencapai 30 orang. Menariknya, banyak anak-anak muda yang ikut terlibat. Saat ini anggotanya berasal dari mulai pelajar SMP hingga orang-orang seumuran Purwo yang sudah menginjak 60 tahun.

Tak hanya itu, ternyata ada beberapa warga dari kampung lain yang juga ikut mendaftar menjadi anggota SOP ini. Lantaran adanya anggota luar Paten, nama komunitas ini kemudian diganti menjadi yang lebih netral. Maka terpilihlah nama ‘Pitsa’ setelah melalui rembukan antar anggota.

Maksud dari pemilihan nama ini sebenarnya simpel. Bahwa jika ingin bersepeda tak perlu mewah-mewah, pakai sepeda seadanya saja. Sepeda tua macam onthel pun bisa.

“Jadi kita bersepeda seadanya, tak harus pakai sepeda yang mewah dan mahal. Yang seperti itu (onthel) pun bisa, tapi kebetulan anggota kami semuanya pakai sepeda onthel,” kata ketua pengurus komunitas sepeda ini.

Berbagai aktivitas bersepeda dilakukan komunitas ini. Di antaranya adalah memeriahkan ulang tahun karang taruna kampung setempat. Selain itu jika pada hari-hari besar atau tanggal merah, mereka mengadakan acara bersepeda ke tempat-tempat yang jauh. Seperti Pantai Glagah, Waduk Sermo, sampai Gembira Loka.

foto: Instagram/@gilang_respati_r

Menurut Purwo, acara yang paling berkesan adalah ketika bersepeda saat 17 Agustus 2017. Mereka yang sedang bersepeda keliling Yogyakarta pernah dicegat dengan komunitas sepeda lain di tengah perjalanan.

Bukan dicegat untuk mencari ribut. Tapi, mereka diajak mengikuti kegiatan upacara yang dilakukan komunitas sepeda bernama Kantoel. Yang menarik adalah upacara tersebut dilakukan di atas sepeda masing-masing. Dari mulai peserta, pemimpin hingga inspektur upacara juga.

Pitsa ini memang komunitas sepeda, namun tak bisa begitu saja disamakan dengan komunitas lain yang bertebaran di luar sana. Pasalnya komunitas sepeda ini memiliki peran penting sebagai wadah keharmonisan antar warga kampung Lopati, Paten, dan Nengahan.

Meski sudah dapat membuat harmonis kehidupan antar kampung. Purwo sebagai yang dituakan di komunitas ini masih belum ingin berbangga hati. Ia masih ingin membenahi susunan organisasi internal komunitas ini. Ia tak mau jika komunitas ini nantinya tak bisa berjalan dengan baik karena tak jelasnya susunan organisasi.

“Saya punya cita-cita untuk mempersatukan masyarakat dari yang muda hingga yang tua, cita-cita saya seperti itu,” ungkap Purwo dengan wajahnya yang serius.

Lebih lanjut ia mengatakan, dirinya sering melihat pemberitaan di televisi tentang tawuran antar kampung. Ia tak ingin itu terjadi di kampungnya. Maka dari itu lewat Pitsa ini Purwo berharap bisa lebih mempersatukan, gotong royong dan saling menghormati. Selain itu, ia juga ingin mengajarkan anak-anak muda untuk berorganisasi lewat komunitas ini.

 

(brl/pep)